TERTIPU LABEL SEKOLAH SUNNAH

cerita curhatan wali murid
Cerita ini hanyalah cerita fiktif yang saya angkat dari kisah nyata, yakni dari curhatan seorang wali murid, tentang kekecewaan salah seorang wali murid terhadap manajemen sekolah. Dikisahkan juga tentang kehidupan di lingkungan sekolah. Cerpen ini sedikit bercerita tentang kwalitas pendidikan negeri ini.

Curhatan Wali Murid di FB

"Kata pepatah, 'Don't judge book by its cover'. Itu benar. Saya kira sekolah berlabel sekolah sunnah adalah sekolah terbaik. Kata orang pengikut sunnah itu berarti ikut jalan hidup Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, sahabat, tabiin dan tabiit tabiin. Ternyata, label tak selalu mewakili isinya. Pandai sekali promosi, padahal fakta tidak sesuai kenyataan. Manajemen sekolah kacau. Target kurikulum tidak jelas. Ustadz-ustadz yang baik jadi tak bisa berperan. Biaya saja yang mahal. Memang gedungnya mewah. Sulit sekali mencari sekolah terbaik untuk buah hati. Kemana mencari lembaga pendidikan yang benar-benar lembaga pendidikan?"

Ustadz Aidan tidak sengaja membaca status facebook di atas. Saat jam istirahat beliau memang kadang menyempatkan membuka akun sosial medianya, baik FB, IG, terutama Whatsapp. Membaca baris pertama status tersebut, beliau langsung paham sekolah yang dimaksud. Benar. Akun yang punya status tersebut adalah akun Facebook salah seorang wali murid. Di awal tahun ajaran baru dulu memang banyak wali murid minta berteman di Facebook dengan wali kelas.

Beliau pun membacakan status tersebut di ruang guru. Semua guru tampak penasaran sekali untuk mendengarkannya. "Nah, bener kan!" kata salah seorang guru. Komplain wali murid memang cukup banyak di sekolah ini. Banyak wali kelas yang mengeluhkan sikap bagian manajemen sekolah, terutama sikap wakil presiden direktur (Pak Presdir).

Ruang guru selalu ramai dengan diskusi berbagai masalah manajemen sekolah. Guru baru menjadi peran utama hampir di setiap diskusi. Banyak dari mereka yang alumni sekolah sunnah, ada yang pernah mengajar di sekolah sunnah lain, tidak sedikit yang alumni perguruan tinggi di timur tengah.

"Pimpinan kita ini tidak paham organisasi," kata Ust Salman guru Matematika. "Masak sekolah sebesar ini tidak punya kurikulum yang jelas. Tarjetnya apa, siswa harus dididik bagaimana, SOP guru tidak ada, tidak jelas sekolah ini."

"Sebenarnya sudah dari dulu para pimpinan disindir-sindir di rapat, tapi tanggapannya selalu begitu," tambah Ust Hadi, guru Biologi.

"Kalau kita usul sesuatu, kita dianggap komplain, dikira mengeluh. Katanya sekolah ini lebih baik dibanding yang lain. Buktinya mana? Sekolah sunnah itu bagus ibadahnya, hafalan Quran siswanya banyak."

“Iya, benar. Di tempat saya dulu, untuk mengarahkan santri itu cukup bunyikan bel, santri sudah jalan sendiri. Tidak usah diobrak-obrak kayak gini,” kata ustadz Sholeh, alumni sekolah sunnah di Jawa Tengah.

"Pimpinan seharusnya visioner, harus membandingkan pada yang lebih baik," sahut guru Fisika. "Bukan malah dibandingin dengan sekolah yang lebih buruk."

"Bilangnya aja sekolah sunnah, sunnah apa? Kalau kayak gini, namanya lalai pada amanah," kata guru bahasa Inggris. "Saya dulu pernah ngajar di sekolah sunnah di jawa Timur. Wah itu, setengah jam sebelum adzan sudah rapi santri membentuk shaf di masjid, murojaah mereka. Tidak kayak gini, siswa tidak keurus. Nasib mereka tidak jelas. Masak kelas dua tidak hafal satu juz? Promosinya aja akan membuat siswa hafal 30 juz. Sholatnya juga tidak bener. Tidak ada sholat malam."

“Ini sekolah bisnis, sekolah yang dibisniskan. Kayak penitipan anak. Tidak ada peraturan, siswanya dimanja-manja. Jadi kayak raja mereka.”

“Iya, mereka mikirnya, ‘Saya yang bayar ustadz, ngapain ngatur saya?!’ Tidak bisa dibayangin kalau mereka sudah sukses nanti dan menanggung hidup orang tuanya, apa masih mau menghormat orang tuanya?”

"Seharusnya di awal itu ada perjanjian tertulis dengan wali murid biar tidak dikit-dikit lapor polisi, kesenggol teman, lapor polisi. Apa-apaan?!"

Baca juga: kumpulan cerpen pendidikan

***

Manajemen Sekolah

Ustadz Salman dipanggil wakil presdir ke kantornya sehabis berkomentar tentang kegiatan sekolah yang melibatkan guru di luar jam kerja guru. Semua guru yakin itu karena komentar beliau dianggap nyerang pimpinan.

Wakil presdir, kepala sekolah , waka kurikulum, waka kesiswaan terlalu sering berbeda pendapat. Bahkan keputusan yang baru dibuatnya pun bisa berubah dalam waktu hitungan detik. "Mereka menyebut diri mereka bagian manajemen, apa yang mereka atur?" kata salah seorang guru asing. "Semuanya berantakan begini."

Tak lama, Ustadz Salman kembali ke ruang guru. "Apa kata Pak Wakil presdir?" tanya guru fisika.

"Nggak ada. Tahu nggak, apa yang dia bilang ke saya?" Semua guru tampak penasaran ingin mendengarnya. "Dia bilang begini, 'Anda tahu kenapa saya dipilih jadi wakil presiden direktur?' Saya diam saja, memang saya tidak tahu. 'Saya dipilih karena saya berpengalaman. Jadi tidak usah komen-komen di group,' begitu dia bilang ke saya."

"Lah, terus apa gunanya bikin grup kalau tidak boleh komen?!" kata guru Fisika.

***

Sekolah Sunnah Sejati

Ruang guru lagi sepi, hanya Ustadz Randy, guru Bahasa Inggris dan Ustadz Umar, guru Quran.

"Bagaimana kabarnya, Mister?"

"Alhamdulillah, selalu baik."

"Masih semangat?!"

Tersenyum.

"Kalau ingin gabung di sekolah sunnah yang ibadahnya luar biasa, nih saya ada kenalan, sekolah sunnah beneran."

"Coba share nomor beliau ke WA saya. Saya hubungi nanti."

“Saya tidak nyangka ada sekolah sunnah kayak gini. Kelas dua itu ada yang belum bisa ngaji.”

“Tempat ustadz yang dulu bagaimana?”

“Beeeh... Luar biasa, Mister. Nilai islamnya terasa banget. Sekolah sunnah beneran.”

"Saya coba ajak curhat salah seorang siswa. Dia bilang begini, ‘Ustadz tahu nggak, kenapa saya jarang masuk kelas? Sebenarnya saya ingin tahu, kalau saya begini, apakah akan ada peringatan untuk saya? Kenapa saya begini, dibiarkan saja?’ katanya pada saya.”

“Masak, Mister?! Wah, parah itu.”

“Hampir tidak pernah saya dengar kata dakwah dan kata ibadah di rapat-rapat kita ini; yang dibahas selalu uang dan kepuasan wali murid.”

“Nampak sekali kalau ini bisnis.”

“Iya, trend hijrah lagi booming sekarang, jadi peluang bagi pebisnis untuk jualan sunnah.”

“Jadi rusak nama sekolah sunnah”

Nama agama, khususnya agama islam di negeri yang memang mayoritas beragama islam ini cukup powerful dijadikan alat, termasuk dijadikan alat promosi bisnis. Mereka para pebisnis, melihat nama islam seakan melihat berlian di halaman. Tak peduli tanggung jawab di akhirat atas perbuatannya. Uang sudah membutakan.

--->> bersambung

baca juga: Sarjana Menganggur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *