Tentang Pemuda Idaman di Musholla

Tentang Pemuda Idaman di Musholla

“Siapa yang adzan?”

Fahma kaget mendenar suara adzan yang merdu sekali, mirip suara syekh di Mekkah, pikirnya. Belum pernah ada orang adzan sebagus itu di kampungnya. Biasanya yang adzan orang tua yang sudah gemetaran suaranya, kalau bukan beliau, anak-anak yang suaranya masih putus-putus, kadang main-main. Ia sendiri, sejak SMA, tidak lagi ikut sholat jamaah atau mengaji di musholla.

“Anak pengabdian itu, Paling,” jelas ibunya.

“Pengabdian apa, Bu?”

“Itu ada santri yang mengabdi di musholla-musholla dan madratsah.”

“Ow, pesantren mana?”

“Jauh. Udah seminggu di sini.”

“Berapa lama, katanya?”

“Sebulan.”

Karena penasaran, Fahma sholat berjamaah di musholla. Waktu melangkahkan kaki di teras musholla, tidak sengaja ia melihat ke pintu, ada pemuda sedang berjalan keluar, ia tercengang memandangnya. Pemuda itu tersenyum padanya. Ia pun segera sadar dan tersenyum malu. Lalu segera ke tepi kiri, ke bilik wanita. Pemuda itu melantunkan puji-pujian. Suaranya merdu sekali.

baca juga: suami islami yang tak membahagiakan

Malam ini Fahma sulit tidur. Ada kisah baru dalam hidupnya, entahlah akan menjadi awal kisah panjang, atau sekedar singgah sesaat saja. Tetapi, ia putuskan menuliskannya dalam buku hariannya. Bagaimana pun, pemuda itu sudah merebut makna dalam hatinya. Tak sabar ia menunggu waktu subuh untuk ke musholla agar bisa bertemu dia lagi. Tetapi, jam dinding terlihat begitu lama berjalan. alarm berbunyi, tapi Fahma tidak sanggup bangun, terlalu malam ia tidur. Akhirnya ia melanjutkan tidurnya. Betapa kagetnya saat ia bangun, ternyata sudah jam 05.00, sholat berjamaah sudah selesai.

Waktu sholat dzuhur masih lama. Menyesal sekali ia tidak memaksakan diri untuk bangun saat alarm berbunyi. Sudah terjadi, ia sudah kehilangan kesempatan untuk bertemu pemuda tampan itu. Saat sholat dzuhur tiba, ia segera ke musholla, rupanya yang adzan dan yang baca puji-pujian bukan pemuda yang dilihatnya kemarin, melainkan temannya. Fahma kecewa. Tidak ia lihat pemuda itu. Sangat sulit untuk mendekatinya, etika di desa cukup ketat. Kalau sampai ketahuan sedang berusaha mendekati lawan jenis, bisa menjadi berita viral sekampung.

Pagi ini anak-anak musholla berkeliling kampung, mereka membagikan tanaman herbal. Anak-anak muda itu yang menjadi pelopornya.

“Assalamualaikum…!!”

Fahma yang sedang makan segera menjawab salam dan keluar. Dilihatnya anak muda yang ia kagumi berdiri di pintu rumahnya. Ia menatapnya lama. Anak muda itu agak bingung.

“Mau nasih ini, Mbak,” katanya.

Fahma tersadar dan segera menambil bibit tanaman itu. “Duduk dulu,” katanya, basa-basi ajak mampir, sesuai tradisi desa.

“Iya, terima kasih,” jawabnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *