Tak Tega Untuk Menikah Lagi

Cerita tak mau menikah lagi

“Ibu menyarankan aku menikah lagi.”

Sofia terdiam. Aris paham, istrinya sakit hati. Sudah dua bulan lalu sebenarnya ingin ia sampaikan, tapi tidak tega. Tetapi, ia pikir istrinya sudah tahu kalau ibunya ingin ia menikah lagi. Tak jarang ibunya membicarakan soal poligami dengan tetangga untuk menyindir sang menantu. Aris tidak tega pada istrinya walau ingin sebenarnya punya istri baru yang bisa memberinya anak. Tetapi, ia mencoba menyampaikannya. Ia tahu istrinya tidak akan menolak dan juga tidak akan memarahinya, tapi ia akan memendam kesedihan. Aris sudah paham itu.

“Mas sudah ada calon?” tanyanya kemudian.

Dari nada bicaranya Aris paham, dia sakit hati. Ia merangkul istrinya yang sedang duduk di sampingnya. “Belum,” jawabnya.

“Ibu tidak memilihkan?”

“Pernah, tapi aku bilang tidak suka.”

“Mas ingin yang seperti apa?”

Aris tidak ingin melanjutkan pembicaraannya. Sebagai lelaki, ia ingin banyak istri, kalau perlu gonti-ganti kalau sudah bosan. Tetapi, ia tidak mau jadi budak nafsu meskipun itu halal. “Kalau kebutuhannya… hanya agar punya anak…, ya, yang penting dapat anak.”

“Maksud, Mas?”

“Tak perlu mikir harus seperti apa dia?”

“Mas ingin aku yang pilihkan?”

“Oh, tidak. Jangan.”

“Terus?”

“Kalau memang harus menikah lagi, aku mau yang sudah tua saja asal masih bisa punya anak.” Istrinya diam. “Banyak kan perempuan kampung yang tidak begitu mikir soal cinta. Asal mereka rajin ibadah.”

Baca juga: Bersyukur mendapat istri mantan pelacur

Aris pernah tahu beberapa perempuan desa. Mereka lebih banyak mikir masalah ekonomi. Mereka tidak pilih-pilih untuk menikah, apalagi yang sudah janda, yang penting dapat uang belanja, mereka sudah senang. Ada juga yang jadi wanita simpanan. Pikir Aris, kalau dia menikah lagi dengan wanita yang sudah tua, kan bisa menganggap anak sama Sofia. Kalau sama-sama muda, bisa tengkar terus.

“Umur berapa?”

“Umur lima puluhan masih bisa punya anak, kan?”

“Udah bahaya, Mas.”

“Tapi ada kok di desa itu yang masih melahirkan. Sehat.”

“Mas mau punya istri tua?”

“Kan sudah punya kamu. Mau nikah lagi kan hanya agar punya anak.”

“Terserah, Mas sih.”

“Sebenarnya, bagaimanapun, menikah lagi itu beresiko. Bisa merusak rumah tangga.”

“Aku ikhlas, kok.”

Tapi Aris paham, dari ekspresi wajahnya dia tidak tulus. Aris cukup mengenalnya, ia tipe wanita yang posesif, tidak akan mudah menerima madu. Tetapi, Sang ibu tidak boleh ia abaikan. Aris bilang sama ibunya kalau masih mencari yang cocok, padahal dia masih mengamati istrinya. Tampak jelas, ia jarang melihat senyum cerita sang istri, manjanya juga mulai berkurang. Ia paham itu akibat dirinya bilang mau nikah lagi. Menyaksikan istrinya seperti itu berhari-hari, Aris jadi berpikir cara lain. Jika memang ibunya masih memaksanya menikah lagi, ia ingin diam-diam saja menikahi wanita kampun. Wanita kampung yang sudah tua biasanya sudah tidak menuntut harus disamakan dengan madunya.

Ibunya Aris tidak sabar karena Aris tidak segera menikah lagi, padahal sudah jelas istrinya mandul. Ia pun minta tolong sama Kyai Farid. Beliau tokoh agama yang masih cukup terpandang. Orang sekampung biasa mengadukan masalahnya pada beliau. “Menurut saya, jodoh Aris memang istrinya yang sekarang,” Kata Kyai Farid. “Bisanya, sesuatu yang sudah pada tempatnya, jika diganggu, malah rusak.” Ibunya Aris menghela nafas. “Bisa jadi rezeki Aris malah ketutup.” Ibunya Aris tersenyum dan pamit.

Kyai Farid dipercaya orang bisa menebak masa depan dan banyak tahu rahasia-rahasia langit. Entah itu beneran atau tidak, tidak ada yang tahu. Orang-orang saja yang menduga begitu. Kyai Farid sendiri tidak pernah mengaku bisa begitu. Ibunya Aris juga sangat percaya sama beliau. Pikirnya, daripada jadi miskin, lebih baik tidak punya anak. Ia pun segera memberi tahu Aris. Aris tersenyum.

“Assalamualaikum…!!”

“Waalaikumsalam. Eh, Pak Budi. Monggo masuk, Pak.”

“Tidak kerja, Pak?”

“Tidak. Lagi ada acara. Ini, saya ada hajatan di rumah. Mohon kehadirannya, sekarang.”

“Loh, sekarang, Pak?”

“Iya. Ini saya manggil tetangga-tetangga yang lain.”

Rupanya Pak Budi menikah lagi dengan salah seorang tetangganya dan mengadakan acara tasyakuran kecil-kecilan. Beliau menikah lagi bukan karena istri pertama tidak punya anak, tapi karena termotivasi motivator poligami. Beliau ingin menghidupkan sunnah yang satu ini. Aris duduk berdampingan dengan Salman, salah seorang tetangganya. “Katanya kamu juga mau nikah lagi?” tanya Salman. Aris tersenyum. Salman sudah punya anak tiga. Anak pertamanya kembar.

“Kata Kyai Farid, rezeki bisa ketutup kalau nikah lagi,” kata Aris sehabis acara ngobrol di jalan.

“Iya, kalau sudah tengkar terus, sakit hati istri itu nutup jalan rezeki,” kata Salman. “Sudah takdirnya, terima aja, disyukuri.”

“Kamu, tidak mau ikut sunnah poligami?” Aris tanya balik.

Salman tertawa. “Umar bin Abdul Aziz saja tidak mau ditawari menikah lagi sama istrinya. Ibadah saya, amal baik saya dibanding beliau, seberapa…??!! Kok mau sok hebat?” Aris tidak tahu kisah tersebut. Ia tersenyum saja. “Nabi sendiri baru poligami setelah istri pertama wafat, kan…?”

Aris semakin mantap untuk setia pada istrinya.

“Mas tidak jadi menikah lagi?” tanya istri Aris.

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Kata Kyai Farid, kamu jodohku. Kalau nikah lagi, rezeki bisa tertutup.”

Istri Aris tersenyum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *