Suami Islami yang Tak Membahagiakan

Suami Islami yang Tak Membahagiakan

“Kamu itu sudah jadi istri, sudah punya tanggung jawab.”

Ida sering main ke rumah Silvi dan sering curhat. Mereka bersahabat sejak SMP, SMA bersama, kuliah juga bersama. Bahkan mereka menikah dengan pria yang juga bersahabat dekat. Tetapi, rupanya Ida merasa tidak beruntung. Berbeda dengan Silvi, Ida iri padanya. Suaminya, menurutnya, jauh lebih romantis dibanding suami Silvi.

“Tiap hari marah-marah melulu. Tidak boleh ini, tidak boleh itu.”

Silvi tersenyum. “Kamu yang sabar, Allah sudah memilihkan yang terbaik.”

Nasehat Silvi benar. Apapun yang sudah dimiliki, itulah pemberian Allah yang terbaik, tidak patut mengeluhkannya. Syukurilah itu. Tetapi, bagi Ida, tidak mudah merubah pandangannya terhadap suami. Wajahnya tak pernah senyum, apalagi becanda. Tak ada tawa di rumahnya. Dirinya seperti hidup dengan seorang raja yang menuntut pengabdiannya.

“Aku tahu, hidup ini memang harus ikut tuntunan agama, tapi kan tidak usah terlalu kolot.”

Suami Silvi jua kolot kalau soal agama. Semu ahal ia pandang dengan kaca mata agama, tapi Silvi bahagia dengan suaminya. Dia tidak pernah marah, tidak suka ngatur-ngatur istri, bahkan tidak pernah nyuruh-nyuruh dirinya. Silvi merasa hidupnya semakin ringan sejak bersuami. Malah semakin enak ada suami yang selalu menemani di rumah. Ia justru khawatir kalau Ida sering main ke rumahnya, takut suaminya tergoda sama dia.

Baca juga: Cinta Sejati Bukan Pada Kecantikan Wajah

“Suamiku marah kalau aku main ke sini, aku dilarang kemana-mana, tak boleh bertemu teman.”

Bagi Silvi itu bagus sih, tapi ia juga merasa kasihan sama Ida. Dia sendiri dibebaskan oleh suaminya. Suaminya pernah cerita kisah ummul mukminin Sayyidah Aisyah ra. yang oleh Rasulullah diizinkan bermain boneka. Rasulullah juga tidak melarang teman-teman Aisyah ra. bermain dengan beliau. Rasulullah juga suka becanda, pernah mengajak Aisyah ra. lomba lari. Romantis sekali.

“Rasanya aku ingin cerai saja.”

“Astaghfirullah, Ida. Tiang Arasy berguncang kalau seorang istri minta cerai tanpa alasan yang dibolehkan.”

Ida menangis. Silvi merasa iba, tapi ia takut sekali suaminya malah ikut iba padanya. Untungnya sekarang lagi kerja. Dia tahu, laki-laki gampang merasa iba melihat wanita yang lagi bersedih, bisa jadi lama-lama jadi cinta dan sayang.

bersambung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *