Sapi Lebih Berharga daripada Sekolah (bagian 1)

Cerita ternak sapi

Cerita tentang usaha peternakan sapi limosin ini hanyalah kisah fiktif. Cerita dengan tokoh seorang pelajar SMA. Cerita hidup pengusaha muda ini boleh dibilang sukses meskipun masih berstatus pelajar. Cerita hidupnya di dunia peternakan sapi boleh diacungi jempol.

Ceria peternakan sapi limosin Alfan, Sang Pengusaha Muda

Ada 15 ekor jenis sapi limousin setiap pagi bertandang di halaman berumput seluas 300 x 400 meter persegi, yang berada 10 meter di sebelah timur rumah Alfan. Dia sudah punya usaha peternakan sapi limosin. Sapi-sapi tersebut milik Alfan. Waktu SMP ia memelihara kambing bersama orang tuanya. Sejak lulus SMP tiba-tiba ia tertarik untuk memelihara sapi seperti pak Samad, salah seorang pelanggan susu kambingnya dari Kalimantan yang sudah mempunyai ratusan ekor sapi, beliau adalah wirausahawan sukses di indonesia yang menginspirasi Alfan. Ada beberapa kisah tokoh entrepreneur indonesia, orang-orang inspiratif juga yang membuatnya semangat untuk menjadi pengusaha muda.

Alfan baru saja naik kelas XI SMA jurusan IPA di SMA 5 Bondowoso. Dia anak keenam dari tujuh bersaudara. Adiknya baru kelas VIII SMP di Tapen. Satu kakaknya masih kuliah di UGM, yang lain sudah selesai kuliah semua. Alfan tergolong siswa yang biasa-biasa. Dulu waktu kelas satu ia suka pelajaran Biologi, terutama tentang hewan. Tetapi sekarang tidak lagi.

Teman-teman yang akrab dengannya hanya anak-anak yang malas belajar, yang suka bolos dan jarang mengerjakan PR. Namun Alfan hampir tidak pernah ikut akivitas mereka di luar sekolah. Alfan tidak suka keluyuran, tidak suka pacaran, tidak suka main game, dan semacamnya. Aktivitasnya mengurus sapi sepulang sekolah bersama pak lek-nya.

“Masih muda hobinya kok ngarit, kayak kakek-kakek saja, Fan,” ledek Dicky, salah seorang teman sekelasnya.

“Yang penting uangnya, Dick,” jawabnya. “Tidak lama lagi aku akan beli mobil, beli rumah, dan segera menikah.”

“Nikah?!”

“Ya, nikah.”

“HahahhHahahah … Udah kebelet lo…!! Cari janda kaya Bro…”

“Yang penting sholehah, Bro.”

Sejak SMP Alfan memang sudah mandiri. Ayahnya sudah mengajarinya berbisnis, manajemen bisnis, serta bagaimana pemasarannya. Alfan banyak membaca kisah sukses wirausahawan. Sekarang Alfan sudah banyak kenal dengan para pebisnis, terutama para peternak sapi dan kambing. Ayahnya anggota kelompk ternak, Alfan pun juga ikut kelompok tersebut. Di kamar Alfan terdapat banyak gambar-gambar sapi terbesar. Itu untuk memotivasi dirinya agar terus semangat. Banyak buku peternakan yang ia miliki. Sudah ada beberapa ilmu yang ia kuasai, mulai dari mengenal jenis jenis sapi, ciri ciri sapi limosin berkwalitas, jenis jenis sapi potong yang ada di Indonesia, juga harga harga sapi, mulai dari yang anakan hingga sapi dewasa lokal. Bahkan di kandang sapinya ia memasang banner besar gambar sapi dipotong.

Baca juga: kumpulan cerpen pendidikan

“Rencana kuliah dimana, Fan?” tanya salah seorang rekan ayahnya.

“Maunya berhenti sekolah, Lek.”

“Loh, eman, Fan. ilmu itu penting.”

“Ilmu apaan…!! Yang dipelajari ya itu itu aja, tidak ada kaitannya dengan kehidupan nyata…”

“Tapi ijazahnya penting, Fan, buat kerja.”

“Ah, buktinya, kakak tu, kerja gajinya minim, sering pinjam bapak. Mas Irfan juga masih belum dipanggil-panggil interview, sudah banyak masukkan lamaran. Guru-guru juga pada ribut soal gaji.”

“Kok tahu kamu kalau guru begitu?”

“Di group Facebook, Lek. Group guru.”

“Memangnya siswa boleh masuk group guru?”

“Ya, bisa aja, kan bisa nyamar jadi guru. Biar tahu dunia mereka.”

***

Bidadari di Warung Bambu

Malam Minggu tiba-tiba Alfan ingin ikut teman-temannya keluar. “Lagi dimana Bro?” ia inbox di BBM Andre.

“Lagi tidak ada acara, Bro. Keluar yuk…!!”

Mereka pun keluar bersama. Tak ada yang spesial bagi Alfan, hanya untuk mempererat persahabatan saja. Sekali-kali mau traktir teman-teman, sekalian belajar bisnis kuliner, kalau bisa. Mereka menuju pusat kota, tetapi di perjalanan mereka melihat warung makan baru terletak di tengah pekarangan yang masih banyak pohonnya. Andre menghentikan motornya, “Sepertinya tempatnya menarik, Bro. Ada wifi-nya juga.” Mereka pun sepakat mampir, tempat makannya juga terbuat dari bambu, tampak alami.

Tak banyak orang di warung tersebut, hanya dua orang penjaga: yang satu sudah tua dan yang satunya kira-kira usia tiga puluhan lebih. Aroma masakannya sangat lezat. Warung sederhana, yang masak juga seperti ibu-ibu kampung, tapi aroma masakannya sangat menggoda.

“Tempat ini romantis, sayangnya cowok semua,” komentar Andre.

“Ibu itu cantik banget ya…”

“Mmak mmak lo bilang cantik…!!”

“Lihat, Bro. Cantik banget.”

“Sepertinya dia yang punya,” ibu itu mengambil sesuatu di mobil yang parkir di depan warung. “Sudah janda belum ya?”

“Aneh…!! Udah tua gitu… Yang tua cari yang muda, eh, yang muda malah melirik yang tua.”

“Yang tua lebih bijaksana, Bro.”

Bersambung ke…
sapi lebih berharga daripada sekolah bagian 2

Cukup di sini saja ya kisah cerpen wirausaha yang menceritakann pengusaha muda ini, lanjut ke halaman berikutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *