Rahasia Keperawanan yang Hilang

cerita pernikahan rahasia

“Rin, menurutmu, apa aku harus jujur pada calon suamiku?”

Ratih merasa bersalah kalau berbohong pada suaminya. Memang, tidak ada yang tahu kalau dirinya pernah menikah di Jakarta, dinikahkan oleh wali hakim waktu itu, karena ayahnya sudah tidak ada. Nikahnya pun diam-diam, hanya Rina yang tahu. “Ibu tidak merestui hubungan kita karena kamu tidak berpendidikan tinggi,” kata Andre dulu waktu mengajak Ratih nikah. Andre tidak mau nurut sama orang tuanya.

“Ya, sudah. Putusin aja aku, Mas.”

“Tidak. Aku tidak mau putus. Kita harus tetap nikah.”

Ratih kaget. “Terus?”

“Yang penting hubungan kita sah dan aku memberimu nafkah.”

“Meskipun tidak serumah?”

“Iya.”

Usai akad nikah, sore hari keduanya memulai cerita cinta mereka di ranjang di kontrakan yang ditempati Rina sama Ratih. Rina menjadi saksi cinta rahasia mereka berdua. Ratih sempat khawatir hamil, tapi Andre tahu solusinya aar tidak hamil. Dia anak orang kaya, itu gampang baginya. Rina turut bahagia keduanya bisa menyatukan cinta walau sembunyi-sembunyi. Hampir setiap hari, sepulang kerja Andre dan Ratih bermesraan di kontrakan tersebut. Tidak seperti pasangan suami istri lainnya, mereka bercinta di sore hari karena bisa diusir warga kalau malam hari Andre di situ.

Baca juga: Bersyukur mendapat istri mantan pelacur

Hubungan itu berakhir karena perusahaan orang tua Andre bangkrut dan dia tidak punya penghasilan lagi. Sedangkan Ratih disuruh pulang karena ibunya mulai sakit-sakitan. Ratih mengajak Andre ke kampung, tapi dia menolak. Terpaksa Ratih minta cerai saja. Andre marah karena Ratih lebih mementingkan ibunya dibanding suaminya sendiri. Andre kecewa.

Peristiwa itu sudah dua setahun lalu. Orang-orang di kampungnya tidak ada yang tahu kalau dia pernah menikah. Sempat ada beberapa orang curiga, katanya gaya berjalannya beda. Tetapi, banyak yang tidak percaya itu, katanya itu hanya mitos. Kini ada pemuda tampan yang hendak melamar Ratih. Dia masih bujang, dia tidak tahu kalau Ratih sudah janda.

“Jangan, Rat. Kalau kamu jujur sudah tidak perawan, dia tidak jadi melamarmu,” kata Rina. “Kamu tahu kan di sini keperawanan itu sangat berharga.”

“Tapi aku tidak mau membohongi calon suamiku. Kalau nanti dia tahu?”

“Hanya aku yang tahu kamu pernah menikah.”

Ratih pun merahasiakan statusnya sudah janda. Ia menikah dengan pemuda bernama Herman itu. Sempat khawatir di malam pertama karena tersebar mitos, perawan itu pasti berdarah di malam pertama. Rupanya suami Ratih tidak komentar apa-apa. Keduanya hidup bahagia.

Setahun kemudian, saat Ratih hamil tua, datang pesan WA dari orang yang tidak asing bagi Ratih. “Sayang, aku kangen,” begitu pesannya. Pesan itu dari Andre. Ratih bingung. Untung suaminya lagi kerja. “Aku mau ke kampungmu.” Ratih semakin bingung. Ia segera memanggil Rina ke rumahnya.

“Bagiaman, Rin?”

“Jujur saja sudah nikah. Dulu dia kan marah sama kamu dan sudah deal putus kan? Lagian, udah tiga tahun kan?”

Begitulah nikah yang tidak tertulis, cerainya pun juga tidak tertulis. Sekarang, mau rujuk, juga tidak tertulis. Ratih lupa tidak ganti nomor hp. Akirnya, ia pun jujur pada Andre kalau sudah menikah dan sudah hamil tua. Andre marah. “Aku kangen sama kamu…!!” Dia ingin bercinta seperti dulu lagi. Tetapi sudah terlambat. “Baik…!! aku masih menyimpan pesan percakapan kita di Whatsapp, akan kutunjukkan pada suamimu…!!” Ratih bingung. Rina juga bingung harus bagaimana. Andre tahu kampung mereka, pasti gampang bagi Andre mencari alamat Ratih. Ratih juga tidak kepikiran untuk memberi kabar kalau mau menikah.

Ratih mencoba membujuk Andre agar tidak berbuat bodoh. Tetapi, Andre sulit untuk menerima kenyataan. Lama keduanya bersitegang di WA. “Baik, aku akan relakan kamu… dengan syarat…”

“Apa?”

“Aku masih suamimu. Layani aku sekali lagi… Setelah itu, kamu bebas.”

“Ratih menangis.”

–> bersambung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *