PHK Sebelum Lamaran

PHK Sebelum Lamaran

“Mas sudah siap berumah tangga?”

“Kamu sendiri?”
“Aku kan perempuan.”
Sudah lama Miftah menjalin hubungan dengan Fitri. Dulu Fitri pernah minta dilamar agar bisa segera lanjut ke pelaminan, tapi miftah merasa tidak siap karena penghasilan masih sedikit. Ia ingin cari penghasilan yang banyak dulu, baru menikah. Tetapi, rupanya tidak gampang mencari penghasilan yang besar. Teman-teman seangkatannya sudah pada menikah. Mereka menikah sebelum kaya, tidak khawatir hidup kekurangan walau penghasilan masih sedikit.
Tetapi, saat ini perusahaan tempat Miftah bekerja sedang mendapat masalah. Beberapa kali gaji karyawan terlambat. Bahkan ada beberapa karyawan yang di-PHK. Jika dia nekad menikah, lalu tiba-tiba ia di-PHK, bagaimana jadinya. Tetapi, jika menunggu mapan, kapan nikahnya? 
“Bismillah. Aku siap.”
Fitri senang sekali. Sudah lama dia menunggu kata itu. Sudah sering ditanya orang tua dan keluarga, bahkan sempat dicarikan jodoh lain yang sudah siap. “Kapan lamarannya?” tanyanya.
“Secepatnya.”
Miftah segera menghubungi orang tuanya, menyampaikan keinginannya untuk melamar Fitri. Orang tuanya langsung menyetujui biar segera menikah. Mereka pun merencanakan acara lamarannya. Semua saudara diberi kabar, siapa saja yang mau ikut. Sebagian tetangga juga ada yang mau ikut. Orang tua Miftah pun segera mencari mobil untuk disewa. Rombongannya lumayan banyak.
Tetapi, H-2 acara lamaran, Miftah di-PHK. Akhirnya yang dia khawatirkan pun terjadi. Tabungannya sangat sedikit. Ia sudah resmi menjadi pengangguran. Mau menggagalkan lamaran, tidak mungkin. Sudah terlanjur. Rasanya, ia seperti berada di atas kapal yang sedang diombang-ambing badai. Hidup memang tidak selalu dalam kendali akal. Ia putuskan untuk terus maju. Untungnya keluarga Fitri tidak mempermasalahkan meskipun Miftah penangguran. Kata orang tua Fitri, Allah yang memberi rizki.
“Kerja apa di Bali, Man?”
Miftah mendengar kabar beberapa tetangganya hendak berangkat kerja ke Bali. Dari pada menanggur, ia pun memutuskan untuk ikut. Apapun pekerjaannya, akan ia jalani.
“Kerja kasar, Mif. Mau kamu?”
“Tidak apa-apa, yang penting dapat uang.”
“Tidak apa-apa, kalau mau ikut. Lumayan gajinya.”
Tetangganya kaget ia mau ikut kerja kasar. Ada yang bilang, kalau mau kerja kayak gitu, ngapain sekolah tinggi-tinggi? Orang berpendidikan biasanya kerjanya yang di dalam ruangan, bukan kerja kasar di lapangan, apalagi jadi kuli. Tetapi, jaman sekarang sulit cari kerja, sebentar lagi Miftah akan menanggung istri, ada kewajiban ngasih uang belanja.
bersambung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *