Mahasiswa Penyelamat Janda Terlantar

Cerita menikahi janda

“Kamu ikut training?”

“Iya. Bagus trainernya. All out, Bro.”

Sejak tahun lalu, di kampus UMADA rutin diadakan training motivasi oleh PR3. Tujuannya agar mahasiswa punya semangat untuk menjadi pengusaha. Indoesia butuh banyak pengusaha, butuh bos, bukan pegawai. Sebagian mahasiswa menolak, salah satunya Anwar. Mungkin karena dia kuliah di fakultas pendidikan. Menurutnya, mahasiswa FKIP itu fokus di bidang pendidikan, sesuai bidangnya. Waktu mereka untuk belajar, penelitian, eksperimen dalam bidang pendidikan. Kalau malah bisnis dagang sate atau es dawet, malah kacau. Begitu menurutnya. Berbeda dengan Doni. Meskipun dia kuliah di Fakultas Kesehatan, tapi dia semangat sekali ikut training motivasi bisnis.

“Gimana hasilnya? Tambah semangat kamu?”

“Yaaa… Aku sih, yaa, begitulah.”

“Berarti tidak bagus trainingnya. Training yang bagus itu yang bisa menghasilkan perubahan pada pesertanya.”

“Itu butuh proses. Yang penting tambah ilmu dulu.”

Anwar memang hobi banget ledekin teman-temannya yang mendukung program motivasi bisnis di kampusnya. Baru saja Doni turun dari tangga Aula, acara baru usai, sudah ia tanya hasilnya.

“Saya dengar sekilas, kata pemateri, mahasiswa harus berani nikah muda?”

“Yap, betul. Pemuda harus berani. Jadi pengusaha itu harus berani. Gunakan otak kanan, jarang banyak beralasan dengan logika. Dan menikah itu melapangkan rizki.”

“Kamu udah dapat calon?”

“Itu juga butuh proses.”

“Semangat laah,,, banyak kan cewek-cewek nganggur.”

“Nanti kalau bisnis dah jalan.”

“Ah, katanya jangan beralasan dengan logika. Positive thinking, Dong. Begitu kan kata motivatornya. Habis nikah, akan ada jalan untuk memulai bisnis. Harus berani.”

Baca juga: Suami Baru Sang Janda Desa yang Cermawan

***

Hari ini ada kuliah pagi. Seperti biasa, Anwar sudah berada di depan kelas membaca buku. Dia memang niat sekali mempelajari ilmu pendidikan dan ilmu-ilmu yang terkait. Ia tak pernah jauh dari buku. Bahkan dia sudah banyak menulis di media online. Pernah juga beberapa kali tulisannya terbit di berita harian. Jam 05:55 dosennya datang. Semua mahassiwa pun bergegas masuk. Ada satu yang belum datang, yakni Taufiq. “Mana Taufiq,” Anwar pada seisi ruangan.

“Katanya nikah,” jawab Via yang duduk di samping Anwar.

“Nikah?”

“Kata teman kosnya.”

Anwar penasaran. Taufiq termasuk mahasiswa yang mendukung program motivasi bisnis di kampus. Pasti itu hasil motivasi trainer. Anwar yakin itu. Dia penasaran sekali, bagaimana nasibnya setelah menikah, bagaimana kuliahnya. Tetapi, Anwar memang cukup cermat. Dia bisa mengendalikan rasa penasrannya. Dia tetap fokus di kelas mengikuti kuliah Psikologi pendidikan. Jam 07:30 perkuliahan usai. Anwar langsung tancap gas ke kosnya Taufiq. Dia penasaran sekali dengan keberanian Taufiq menikah dini. Padahal baru semester dua.

Anwar tidak melihat Taufiq, hanya ada Ridwan, Fauzi dan Ilham. Mereka mahasiswa sastra. Udah biasa, bangunnya siang, jarang mandi juga. Anwal kenal banget sama mereka. “Woi, woi, woi….!! Bangun, bangun, bangun…!! Gimana nsip dunia sastra Indonesia, kalau generasinya kayak gini….!!”

“Apasih, brisik,” kata Ridwan sambil memperbaiki selimutnya, menutupi kepalanya.

“Loh, malah berselimut. Udah siang, Bro…!!”

“Bodoh amat. Ngantuk.”

Anwar duduk di samping kepala Ridwan. “Taufiq mana?”

“Di rumah istrinya.”

“Serius dia nikah?”

“Nggak, main-main aja…!! Dibilangin.”

“Orang mana istrinya?”

“Ibunya ibu kos?”

“Hah….?! Woi, serius nanya.”

“serius jawab, woooooiii….!!! Ganggu orang tidur aja.”

Akhirnya Ridwan bangun dan ke kamar mandi. “Mandi dulu….!!”

Ridwan hanya masuk sebentar ke kamar mandi. “Nggak jadi mandi?” tanya Anwar.

“Dingin. Nanti aja.”

“Dasar.”

“Dari mana lho, War?”

“Kuliah.”

“What?! mimpi apa dosennya? Rajin amat. Pagi-pagi gini kan anget sama bini.”

“Serisu si Taufiq nikah sama …”

“Iya, tuaaaaan, saya seeeeeeriiiiussss.”

“Umur berapa?”

“Bandingin aja sama ibu kos. Dia aja paling 45. Ibunya paling 20 tahun lebih tua.”

“Astaghfirullah…!!”

“Kok istighfar, alhamdulillah noh..!! Barokallah… Orang bahagia kok istighfar….!!”

“Ngapain dia nikahin nenek-nenek?”

“Cinta. Paham?! Udah, gua tidur lagi.”

***

Anwar mencoba menemui Rian di masjid, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan bisnis. Sejak awal semester dua Taufiq rajin sekali ikut kajian di masjid dan dekat dengan Rian. “Waalaikumsalam, Akhi. Silahkan masuk.” Ramah sekali Rian menyambut Anwar. Seperti itulah pemuda masjid. Selalu ada senyum, ramah, dan penuh semangat. “Dari mana?”

“Dari kosannya Taufiq.”

“Dia kan udah nikah. Di rumah istrinya lah.”

“Kapan nikahnya?”

“Maasyaa Allah, alhamdulillah, kemarin sore. Luar biasa dia. Walaupun masih semester dua sudah berani halalkan akhwat.”

Anwar tidak sepakat, tapi enggan berdebat. Dapat nenek-nenek kok mayaAllah, pikirnya. “Bagaimana ceritanya dia bisa menikah?”

“Alhamdulillah, Taufiq merasa hidup di dunia kampus itu dekat dengan maksiat. Sebagai laki-laki normal, wajar tergoda wanita. Apalagi FKIP ya, dikerubung bidadari. Saya sarankan puasa, ternyata dia bilang, berat. Akhirnya, dia putuskan menikah.”

“Kenapa dengan janda tua?”

Rian agak terkejut, tapi ia tutupi dengan senyum. “Dia kan belum punya penghasilan. Hanya dapat kiriman dari orang tuanya. Kalau menikahi wanita muda, kebutuhannya banyak: make up, pakaiannya mewah, dan semacamnya. Kalau wanita tua kan sudah tidak butuh itu, cukup makan aja. Jadi, menurut Taufiq, lebih irit. Pokoknya, yang penting halal, begitu kata dia.”

Anwar menghela nafas. “Siapa yang ngenalin?”

“Katanya, dia dan teman-temannya pada tahu semua kalau ibu kosnya itu tidak open sama ibunya, tidak diurus dengan baik. Bahkan sering dibentak-bentak, katanya. Bahkan dipaksa tinggal di panti jompo, tapi tidak mau. Nah, pikir Taufiq, dari pada di panti jompo, lebih baik ia nikahin aja. Pahala kan menolong janda terlantar.”

“Terus, mereka tinggal dimana?”

“Di rumah istrinya Taufiq, di Desa Petung. Sekitar enam kilo dari sini. Yaaa, semoga rizkinya lancar, sudah halal.”

Anwar tidak mengerti. Dia tetap tidak sepakat. “OK. Terima kasih infonya, Akhi. Assalamualaikum.”

“Afwan. Waalaikumsalam.”

“Hey, Anwar…!! Mau kemana?” Ismi memanggilnya.

“Hey, Is. Mau kemana?”

“Nggak ada.”

“Ikut aku yuk…!!”

“Kemana?”

“Eh, kamu tahu Taufiq udah nikah?”

Ismi tertawa. “Kamu kepo amat.”

“Kamu tahu istrinya?”

“Hahahaha… Memangnya kenapa?”

“Masak….?!”

“Yang penting masih berfungsi. Dari pada zina.”

“Gila…!!”

“Kamu mau juga?”

“Sama kamu aja.”

“Alah…!! Emang berani?”

“Eh, main ke sana yuk!”

“Ke rumah istrinya Taufiq?”

“Iya.”

“Kamu penasaran amat sih?!”

“Ih, aneh…! Sumpah aneh…!!”

“Udaaahhh… Udah jodohnya. Hahahahaa… Kamu tidak usah bayangin malam-malam mereka… hahahahahaa…”

“Gila lho.”

“Pahala lho, War.”

“Aku penasaran.”

“Mau ke sana tah?”

“Ayo.”

“Ayo. Kamu mau privat sama dia? Hahaha…”

“Udah, jangan ledekin terus.”

Taufiq lagi ngasih makan kambing di samping rumahnya. Ismi segera mnghampirinya. “Assalamualaikum”. Taufiq pun menjawab salamnya. “Punyamu?”

“Punya tetangga. Saya yang pelihara. Bagi hasil.”

“Wah, udah jadi pebisnis. Sukses ya…”

“Aamiin. Mohon doanya.”

Anwar tidak percaya melihat Taufiq tampak bahagia sekali.

“Istrimu mana?” tanya Ismi.

“Ada di dalam. Dek…!! Ada tamu.”

Ismi memandang Anwar dan tersenyum, seakan bilang, Manggil adek juga ya. Istrinya Taufiq pun keluar, seorang nenek yang sudah cukup tua, dan mempersilakan Ismi dan Anwar masuk. Ismi bingung mau manggil mbak, ibu atau nenek. Dia mendekati Taufiq. “Aku manggil apa sama istrimu?” bisiknya.

“Terserah kamu lah.”

“Eh, jangan terserah. Bingung aku.”

“Panggil nenek aja.”

Ismi mau ketawa. “Iya kakek.” Taufiq mau ketawa dipanggil kakek.

“Di sini aja, Nek. Tidak apa-apa di luar, lihat kambing.”

“Fiq…,” bisik Ismi.

“Apa?”

“Pelan-pelan, Fiq.”

“Apanya?”

“Hihihihiii kalau malem.”

“Ah, kayak tahu aja kamu…”

“Hihihihihii… War, sini…!! katanya mau privat kamu?”

Anwar mendekat. “Kayak hamil kambingnya?” Anwar mencoba menyembunyikan perasaannya. Seperti tak kenal lagi dia sama Taufiq.

“Iya, tiga ini hamil.”

“Anaknya nanti dibagi ya, Fiq?”

“Iya.”

***
Tiga bulan kemudian terdengar kabar Taufiq nikah lagi. Anwar kaget mendengarnya. Padahal, sejak nikah sama istri pertamanya, Taufiq sering terlihat buru-buru, sibuk sekali. Pikir Anwar, karena kebutuhan orang berkeluarga itu tidak sedikit, sehingga Taufiq perlu kerja keras. Bagaimana kuliahnya? Hidup sendiri saja, Anwar merasa punya sedikit waktu belajar. Apalagi punya istri, mikir uang belanja, urusan rumah tangga, dan semacamnya. Sekarang Taufiq malah nambah istri. Anwar penasaran, seperti apa istrinya yang sekarang.

Usai sholat dzuhur Anwar menemui Rian yang sedang duduk di serambi masjid kampus. Anwar sangat tidak sepakat dengan poligami. Menurutnya, itu aneh. Memang halal dalam islam, tapi menurutnya, wanita Indonesia tidak cocok dengan poligami. Ia ingin curhat sama Rian. Seperti biasa, Rian selalu menyambut dengan senyum penuh semangat. “Taufiq nikah lagi ya?” tanyanya pada Rian.

“Alhamdulillah, dia sudah mampu menjalankan sunnah Nabi.” Anwar tidak suka mendengarnya. Pikirnya, sholat sampek kaki bengkak itu sunnah nabi. Bukan yang enak-enak. “Alhamulillah, saya juga baru menikah.”

Anwar tidak terlalu peduli karena memang tidak akrab sama Rian. “Sama orang mana, Akh?”

“Sama Bu Ella.”

Anwar kaget, menduga-duga, namun tidak percaya dugaannya. Tapi, untuk memastikan, ia tanya saja, “Ibu kantin itu?”

“Iya.” Anwar menghela nafas. Tambah lagi orang aneh, pikirnya. Bu Ella sama sekali sudah tidak terlihat cantik, mungkin sudah 50an umurnya, udah tidak seksi, udah tampak keriput. “Kasihan dia, hidup sendiri. Anaknya kerja di luar negeri tapi tidak ada kabar. Saudaranya juga pada sibuk sendiri. Ya, untuk menolongnya, saya jadikan dia istri.”

“Kalau istri kedua Taufiq, orang mana?”

“Orang Jakarta. Dia muallaf. Dia dicerai suaminya karena masuk islam. Pengusaha kaya. Beliau menawarkan diri sama Taufiq. Niat baik, kenapa ditolak.” Mendadak kaya si Taufiq. “Antum belum ada rencana nikah?”

“Wah, nanti dulu lah. Sekarang fokus belajar aja dulu.” Perawan banyak, kenapa mesti sama janda? pikir Anwar.

***

Ismi mengejar Anwar yang sedang berjalan menuju perpustakaan. “War, tunggu.” Anwar pun menunggunya. “Aku mau curhat.”

“Apa?”

“Kamu kan dekat sama Taufiq, Rian juga.”

“Terus?”

“Ada yang mau aku tanya. Di lantai dua aja yuk, ngobrol di sana, nggak rame kan.” Keduanya menuju lantai dua perpustakaan, ambil buku dan duduk di pojok. “Temannya Rian, Anak sastra yang biasa baca Quran saat acara kampus itu…”

“Qori’ itu?”

“Iya. Dia mau melamar aku, War.”

“Wah, beruntung sekali kamu…!!”

Ismi diam sejenak. “Maksudmu, dia tidak beruntung?”

“Hahahahaa…. Pisss…!!”

“Aku kan bukan cewek islami, War.”

“Tapi kamu cantik, seksi.”

“Alah, buktinya kamu tidak tertarik.”

“Aku fokus belajar. Titik.”

“Ya.”

“Terus?”

“Orang menikah itu kan butuh modal, War. Memangnya dia punya penghasilan?”

“Mana kutahu…!!”

“Masak tidak tahu?! Kamu kan dekat sama Taufiq dan Rian.”

“Kan bukan sama dia!”

“Cobalah tanya-tanya. Aku tidak enak yang mau nanya-nanya sama Taufiq.”

“Hmmm… Wani piro?”

“Iiihhh…!! Dimintai tolong teman, malah gitu.”

“OK, OK. Siap Boss.”

***

Walau agak malas, Rian mencoba menemui Rian di masjid. Tetapi tidak ia temui. Mungkin di kantin sama istrinya. Rian pun ke sana. Betul. Tampak romantis mereka, meskipun usia beda jauh. Rian merasa tidak enak. Sepertinya waktunya tidak pas. Apalagi banyak mahasiswa sedang beli makan di situ. Ia coba inbox Taufiq di WA, menanyakan tentang, terutama tentang bisnisnya. Ternyata Taufiq sangat kenal dengan Alif, pemuda yang dimaksud. Rupanya dia pengusaha ternak. Sejak SMA dia sudah ikut mengurus bisnis ternak milik ustadznya di kampung. Bahkan dia sudah punya rumah dan mobil.

Anwar bingung. Ia ke serambi masjid dan duduk di serambi sebelah kiri, menikmati pemandangan hijau tanaman. Taufiq sudah kaya mendadak. Rian sudah jadi pengusaha kantin. Ismi mau dilamar pemuda tajir, alim lagi. Sedangkan Anwar, masih kerja keras. Entah sampai kapan dia harus kerja keras belajar dengan tekun? Mungkin perjuangan memang begini? Lelah juga. Tetapi, menurutnya, cita-cita besar hanya bisa diraih dengan kerja keras.

“War,” terdengar suara Ismi. “Ngapain di situ? Melamun?” Ia mendekati Anwar. “Gimana? Udah dapat kabar?”

“Tugas selesai. Ijinkan saya melaporkan.” Ismi tertawa. Dengan ekspresi lesu, “Dia menjalankan usaha ternak sapi sejak SMA…”

“Eh, jangan keras-keras. Dia di dalam kayaknya.”

Setengah berbisik, Anwar lanjutkan, “sekarang dia sudah sukses, sudah punya rumah dan mobil.”

“What?!”

“Kok what? bahagia noh.”

“Ko mau sama aku, War?”

“Dibilangin. Kamu itu cantik dan seksi.”

“OK. Terima kasih.”

***

Ayah Anwar kecelakaan dan cacat seumur hidup. Beliau tidak bisa lagi bekerja. Anwar bingung dari mana harus ia dapatkan uang untuk biaya kuliahnya. Mau ngajuin beasiswa, dia tidak ikut organisasi apapun. Kuliahnya terancam putus. Beberapa minggu lalu Taufiq sempat menawarkan janda tua padanya. Janda terlantar, tapi punya dua petak sawah dan pekarangan. Anwar tidak mungkin menerima tawaran itu. Tetapi sekarang, Anwar merasa butuh. Andai dia menerimanya, masih ada sumber penghasilan dari sawah dan pekarangan sang janda. Mau cari kerja, dia takut tidak bisa belajar.

Ismi memberikan selembar undangan pada Anwar, “Datang ya.” Undangan pernikahan Ismi dengan Alif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *