Kumpulan 12 Contoh Cerpen Pendidikan

cerpen tentang sekolah, contoh cerpen tentang sekolah, karangan tentang pendidikan, cerpen anak sekolah sma, cerpen bertema pendidikan, cerpen pendidikan,

Cerpen pendidikan merupakan salah satu jenis cerpen yang ceritanya mengisahkan tentang dunia pendidikan, baik itu macam-macam pendidikan, manajemen pendidikan, lembaga-lembaa pendidikan, stake holder pendidikan, dan segala seluk-beluk dunia pendidikan. Cerpen merupakan singkatan dari cerita pendek, banyak macamnya. Cerpen adalah cerita fiksi, ceritanya bukan kisah nyata. Cerita cerpen singkat, tidak seperti novel, biasanya hanya satu alur, hanya berisi satu peristiwa. Cerpen selesai dibaca sekali duduk, bahkan bisa dibaca sambil berdiri. Sehingga dalam satu cerpen pendidikan, tidak banyak ragam masalah yang dibahas.

Definisi Cerpen Pendidikan

Cerpen pendidikan adalah cerpen atau cerita pendek yang bercerita tentang dunia pendidikan. Cerpen pendidikan mengungkap kejadian-kejadian di dunia pendidikan, tujuannya agar ada perbaikan kwalitas pendidikan, memberikan sumbangsih ide konstruktif, juga memotivasi, dan semacamnya. Tokoh dalam cerpen pendidikan bisa meliputi guru, siswa, dan semua karyawan sekolah, juga orang tua siswa, dan orang-orang yang terlibat dalam mengurusu dunia pendidikan.

Karena cerita dalam cerpen berupa cerita singkat, biasanya hanya satu alur, maka biasanya satu cerpen pendidikan hanya mengungkap satu peristiwa yang terjadi di dunia pendidikan. Namun, tidak menutup kemungkinan, meskipun ceritanya singkat, terkadang dalam satu cerpen pendidikan tergambar secara umum tentang pendidikan di suatu negeri.

12 Contoh Cerpen Pendidikan

Cerpen Pendidikan Jangan jadi Sarjana Kertas

Ia cium tangan ayah ibu. Ramai sekali di luar. Begitulah orang-orang jika ada anak yang hendak berangkat merantau menuntut ilmu, mereka turut melepas kepergiannya. Katanya malaikat sedang melebarkan sayapnya karena Ardian sudah siap-siap berangkat menuntut ilmu. Harapan orang tua, ia jadi orang mulia, berilmu dan bermanfaat. Paling tidak ia mendapat kerjaan yang layak, bukan kerja kasar seperti pemuda kampung lainnya.

Tak satupun dari keluarganya, bapak, ibu, pak lek, pak de, bulek dan pak lek, juga kakak-kakaknya yang merasakan pendidikan tingkat lanjut, mereka hanya lulusan SD. Ardian adalah satu-satunya generasi di keluarganya yang akan merasakan belajar di perguruan tinggi. Banyak yang berharap ialah yang akan jadi pemimpin di kampungya, termasuk memimpin acara-acara tradisi keagamaan. Baca Selengkapnya Cerita Jangan jadi Sarjana Kertas

Cerpen ini bercerita tentang mahasiswa dari kampung yang belajar di suatu kampus di kota menempuh pendidikan tinggi. Rupanya di kampus ia tidak fokus pada kuliahnya. Pikirnya, sukses tidak harus dengan ijazah saja. Banyak motivator mengatakan, mahasiswa jangan terlalu asyik di kelas, jangan hanya mengandalkan ijazah. Cerpen ini menggambarkan sekilas pendidikan tinggi di negeri ini.

Cerpen Pendidikan Usai Kelulusan SMA

“Kamu kuliah dimana?”

“Masih bingung. Kamu?”

“Entahlah, mau nikah aja.”

“Hahahahaaa… Ngawur.”

“Lagian, banyak yang nanggur setelah lulus kuliah. Itu, tetanggaku jadi TKI.”

“Iya, tetanggaku ada yang kerja jadi kuli bangunan.”

“Sepertinya ijazah memang sudah kurang laku sekarang. Dagang yang enak. Masnya Fatih itu jualan nasi goreng, bisa sepuluh jutaan sebulan.”

“Puhhh…!! Hasil bersihnya?!”

“Iya. Enak ya. Enakan gitu timbang kuliah, lama, biayanya mahal.”

“Tapi ada juga kuliah yang bisa langsung kerja. Asal bisa lulus tesnya aja.”

“Sebenarnya, menarik juga kata Pak BK itu. Kalau mau kuliah itu memang perlu mempertimbangkan minat kita, terus peluang kerjanya juga. Peluang kerja bagus, kalau kita tidak suka, bisa stress.”

“Kalau tak pikir-pikir, jurusan marketing bagus kayaknya. Kata beliau itu kan ujung tombaknya bisnis, apapun bisnisnya, kalau pemasarannya buruk, akan macet bisnisnya.”

“Tapi, skill marketing itu bisa didapat sambil jalan. Buktinya, jualan nasi goreng bisa sukses tanpa kuliah pemasaran.”

“Iya juga sih. Tapi, mungkin jangkauannya akan lebih luas kalau kuliah.”

“Eksor, impor?”

“Termasuk.”

“Tapi, sepertinya aku milih istirahat aja dulu setahun, sambil cari pengalaman. Ingin tahu rasanya hidup bebas dulu.”

“Tapi, eman waktu.”

“Tidak apa-apa. Siapa tahu dapat bisnis yang bagus, kan bisa biaya sendiri kuliahnya.”

“Iya kalau dapat. Aku tak browsin-browsing aja dulu, cari yang jurusan yang sesuai.”

***

Fandi ikut Pak Leknya mencari belut di sawah. Mereka berangkat sehabis isyak dan pulan tengah malam. Awalnya Fandi agak takut malam-malam jalan ke tengah persawahan. Tetapi, karena tidak sedikit jua yang kerja mencari belut, ia pun berusaha tenang. Cukup melelahkan juga kerjanya, wajar, ia belum pernah kerja. Terasa sekali lelahnya. Paginya juga ngantuk sekali, terasa sakit semua badannya. “Kerja itu memang capek, tapi demi uang, dijalani aja,” kata Pak Leknya mensehatinya.

Setelah beberapa hari kerja mencari belut, Fandi mulai mencari-cari ide. Ia ingin penghasilan yang lebih besar. Senang rasanya bisa menghasilkan uang sendiri. Tahu begitu, sejak dulu ia kerja sambil sekolah. Tetapi, dasar anak sekolah, selalu merasa gengsi. Ia duduk sejenak di tepi sawah, merenung, berarti saat ini dirinya sudah bisa menikah, pikirnya. Teman-temannya yang kerja mencari belut sudah pada punya anak.

Ia jadi teringat si Fia, teman seangkatannya jurusan IPA. Daripada pacaran, kan lebih baik nikah. Pikirnya, lelah tidak masalah kalau ada istri yang menghiburnya di rumah. Fandi suka sama dia sejak naik kelas XI. Tapi tidak berani nembak karena tidak punya uang buat jalan-jalan. Sekarang, ia bisa mentraktir dia di rumah makan yang lumayan mewah.

bersambung

Cerpen Pendidikan Sarjana Menganggur, Santri Tak Jadi kyai

“Katanya Si Firman sudah sarjana, kok kerjanya cuma melamun gitu? Kok tidak seperti Arif dan saudara-saudaranya: kerja enak, gaji besar”

“Itu bukan urusan kita. Anak kita juga tidak kerja.”

“Anak kita kan mondok, tidak sekolah. Memang bukan untuk cari kerja”

Segelas teh sudah tersaji. Nasinya belum matang. Sayurnya juga belum diagkat ke panci. Baru ikan yang satu per satu dicelupkan ke wajan untuk digoreng. Aromanya sedap. Pak Rahman sudah terbiasa membantu masak Buk Rahman. Selama belajar di pesantren dulu dia masak sendiri. Makanya tak heran jika ia pintar masak.

“Kalau tidak kerja, ngapain kuliah mahal-mahal ya?”

“Mungkin belum rejekinya. Rejeki itu Allah yang ngatur.” Baca selengkapnya Sarjana Menganggur

Cerpen ini menceritakan pandangan sebagian masyarakat terhadap sarjana dan santri usai masa pendidikan, ketika mereka pulang ke kehidupan masyarakat. Dua pendidikan yang sama-sama exist di Indonesia ini mencetak generasi dengan karakter yang berbeda. Dalam cerpen bertema pendidikan ini, diuangkap sedikit perbedaan menurut pandangan sebagian masyarakat.

Cerpen Pendidikan Bilang aja Kakek Meninggal

“Pembohong, pembohong, pembohong…!!”

Terdengar suara anak-anak teriak-teriak “bohong” di halaman. Terlihat di teras musholla, tidak jauh dari lokasi anak-anak bermain, sedang asyik ngerumpi ibu-ibu sambil makan Jug-gerjuk, makanan tradisional mirip rujak, tapi tanpa lontong. Seorang anak berlari mendekati mereka dan menangis. “Saya dibilang pembohong,” katanya sambil menangis.

Salah seorang wanita paruh baya menggendongnya, “Sudah, jangan nangis. Mereka hanya bergurau,” bujuknya. “Makan jug-gerjuk aja.”

Baca selengkapnya Cerita Kehidupan di Pesantren

Cerpen ini bercerita kehidupan dan proses pendidikan di pesantren, tentang adab sebagai santri dan adab sebagai orang tua santri. Di pesantren, santri tidak hanya belajar di kelas. Tapi kehidupannya selama 24 jam dalam pengawasan. Karakter, kepribadian, perilaku dinilai 24 jam. Dalam cerpen ini, digambarkan sekilas program pendidikan di pesantren.

Cerpen Anak Sekolah Ardian si Anak Tunggal

“Selamat pagi,” suaranya lantang dan tegas. Semua guru yang sedang di ruangan itu terkejut. “Bisa bertemu kepala sekolah sekarang?” agak memaksa.

Salah seorang guru menghampiri, “Monggo, silahkan masuk, saya antar ke ruang kepala sekolah.”

Ia dipersilahkan masuk. “Ada perlu apa ya memanggil saya?” tanyanya ketus kepada kepala sekolah. “Saya tidak bisa lama-lama.” Wajahnya tampak tak ramah.

Bu Rahma yang baru lima bulan menjabat kepala sekolah kaget menghadapi wali murid semacam itu. Ia berusaha menenangkan diri, “Maaf, Buk. Saya sekedar mau memberi tahu bahwa putra ibuk, Ardian, sudah ijin sebanyak 80 hari…” Baca selengkapnya Ardian Anak Sekolah

Cerpen ini tentang guru, tentang karakter guru, tugas guru dalam mendidik siswa di lingkungan pendidikan. Dalam cerpen bertema pendidikan ini juga diceritakan sikap wali murid. Ada wali murid yang bersahabat dengan guru, ada yang seperti polisi dan penjahat.

Cerpen Anak Sekolah Saya Hanya Telat Mengumpulkan PR

Dua pengamen itu semakin mendekat. Angga memandang ibunya. Ibunya hanya menghela nafas dalam lalu melihat isi dompet. Ia hitung dengan wajah tampak khawatir. Belum selesai ia hitung, dua pengamen itu sudah melantunkan lagu di hadapannya. Sudah sangat dihafal sebagian liriknya, “…walau sedikit asal halal, walau letih asal makan, tak senang uang banyak kalau ngutang…” Tetapi itu hanya lirik lagunya. Dengan sikap garangnya, pengamen tersebut menghargai lagunya Rp 20.000,- per satu lagu. Dan selalu menyanyikan tiga hingga empat lagu. Jika tidak diberi, mereka mengancam. Baca selengkapnya Mengumpulkan PR

Cerpen ini bercerita tentang seorang anak sekolah yang masih dalam masa pendidikan, yang hidupnya kurang beruntung. Kondisi perekonomian orang tuanya sangat minus sehingga ia harus membantu orang tua mencari nafkah.

Cerpen Anak Sekolah SMA Sapi Lebih Berharga daripada Sekolah

Ada 15 ekor jenis sapi limousin setiap pagi bertandang di halaman berumput seluas 300 x 400 meter persegi, yang berada 10 meter di sebelah timur rumah Alfan. Dia sudah punya usaha peternakan sapi limosin. Sapi-sapi tersebut milik Alfan. Waktu SMP ia memelihara kambing bersama orang tuanya. Sejak lulus SMP tiba-tiba ia tertarik untuk memelihara sapi seperti pak Samad, salah seorang pelanggan susu kambingnya dari Kalimantan yang sudah mempunyai ratusan ekor sapi, beliau adalah wirausahawan sukses di indonesia yang menginspirasi Alfan. Ada beberapa kisah tokoh entrepreneur indonesia, orang-orang inspiratif juga yang membuatnya semangat untuk menjadi pengusaha muda. Baca Selengkapnya Sapi lebih berharga daripada sekolah bagian 1

Cerpen ini bercerita anak SMA yang gemar beternak sapi limosin walau masih dalam masa pendidikan sekolah. Ia berasal dari keluarga peternak, meskipun masih sekolah, ia sudah ikut menjalankan bisnis peternakan. Dalam cerpen ini dikisahkan ia sempat malas untuk menyelesaikan pendidikan karena menganggap bisnis lebih penting.

Cerpen Bertema Pendidikan Siswa Belajar di Rumah, Guru Makan Gaji Buta

Sepulang dari sekolah, ia membuka catata hariannya. Bertumpuk masalah siswa di catatan itu. Ada tumpukan hasil kerja siswa yang juga harus ia evaluasi. Ia juga aktif sharing di gup guru, berdiskusi mencari solusi atas segenap masalah siswanya. Malam tiba, Viney perlu membaca dan browsing untuk menyusun materi yang akan diajarkan besok. Materinya, metode mengajarnya, media ajarnya harus sesuai dengan karakter kelas yang diajar. Kadang dia teringat siswanya yang sering murung, juga siswanya yang suka tidur. Jua tak lepas dari ingatannya hutangnya yang belum ia bayar, awal bulan masih agak lama. Mungkin perlu bisnis mencari penghasilan tambahan. Kuli harian dibayar per hari, kerja mulai jam 08.00 sampai jam 16.00. Jika dalam sehari digaji Rp 120.000, dan dalam sebulan masuk kerja 24 hari, maka dalam sebulan ia akan mendapatkan gaji Rp 2,880,000. Mereka kerja delapan jam sehari, selebihnya bebas, bisa rekreasi, bisa bersantai. Baca selengkapnya Guru Makan Gaji Buta

Cerpen bertema pendidikan ini sebagai respon terhadap fenomena yang terjadi akibat covid-19. Sekolah ditutup, ada yang belajar online, ada juga yang diliburkan. Dalam cerpen ini diceritakan bagaimana dampak covid-19 terhadap pendidikan anak. Orang tua mengeluh karena tetap bayar, sebagian sekolah tidak menggaji guru.

Cerpen Tentang Sekolah Wali Murid Komplain anaknya didisiplinkan

“Iya, maaf, Pak. Kemarin itu si Randy dikeluarkan dari kelas oleh guru Matematika karena bersikap tidak sopan di kelas. Bahkan dia berani bilang, ‘Saya yang bayar guru, kok dikeluarkan?!'” Para guru di ruang guru menyimak pembicaraan Pak Salim dengan salah seorang wali murid di telefonnya. “Dia juga sering bolos, Pak, sering terlambat juga.”

Para guru saling berbisik. Pak Salim beberapa kali memberi isyarat dengan menempelkan jari telunjuk ke bibirnya agar para guru tidak terlalu keras bersuara biar tidak didengar ayahnya Randy. Baca selengkapnya Wali Murid Komplain

Cerpen ini bercerita tentang larangan hukunan fisik di lingkunan pendidikan, ada yang senang, ada juga yang tidak sepakat. Bahkan sebagian orang tua ingin hukuman fisik tetap ada. Ada juga yang ingin anaknya dimanja seperti di rumah. Macam-macam opini, yang jelas di Indonesia, kekerasan dilarang.

Cerpen Pendidikan Makna Administrasi Guru

“Fulusnya lumayan loh, Pak.”

“Dua puluh juta?”

“HahahahHahaha…!! Seharga semangkok bakso.”

“Saya paling males kalau sudah ngomongin soal administrasi. Memang dengan administrasi karakter siswa terbentuk?!” Tahun ini merupakan proses akreditasi yang kedua. Akreditasi sebelumnya mendapatkan nilai A, tentu dengan biaya yang tidak sedikit, juga lumayan menguras tenaga, bahkan lembur hingga larut malam. “Akreditasi sekolah ini A, tapi, adakah perubahan signifikan terkait karakter, ahlaq siswa?”

“Administrasi itu kan syarat wajib, Pak. Mau tidak mau kita harus melakukannya.” Baca selenkapnya Administrasi Guru

Cerpen ini mengungkap sedikiti manajemen pendidikan, tentang akreditasi sekolah, pemberian nilai atau label pada sekolah. Ada sekolah terakreditasi A, ada yang B, ada juga yang C. Dalam cerpen ini diceritakan sedikit bagaimana proses mendapatkan nilai terbaik.

Cerpen Bertema Pendidikan Tertipu Label Sekolah Sunnah

“Kata pepatah, ‘Don’t judge book by its cover’. Itu benar. Saya kira sekolah berlabel sekolah sunnah adalah sekolah terbaik. Kata orang pengikut sunnah itu berarti ikut jalan hidup Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sahabat, tabiin dan tabiit tabiin. Ternyata, label tak selalu mewakili isinya. Pandai sekali promosi, padahal fakta tidak sesuai kenyataan. Manajemen sekolah kacau. Target kurikulum tidak jelas. Ustadz-ustadz yang baik jadi tak bisa berperan. Biaya saja yang mahal. Memang gedungnya mewah. Sulit sekali mencari sekolah terbaik untuk buah hati. Kemana mencari lembaga pendidikan yang benar-benar lembaga pendidikan?”

Ustadz Aidan tidak sengaja membaca status facebook di atas. Saat jam istirahat beliau memang kadang menyempatkan membuka akun sosial medianya, baik FB, IG, terutama Whatsapp. Membaca baris pertama status tersebut, beliau langsung paham sekolah yang dimaksud. Baca selengkapnya tertipu label sekolah sunnah

Cerpen ini tentang sekolah islam dan perannya bagi pendidikan di Indonesia. Sekolah islam menjadi pilihan karena pembangunan karakter baik diutamakan. Orang tua merasa lebih aman jika anaknya dididik di sekolah islam. Tetapi, rupanya ada oknum yang berbisnis dengan nama sekolah islam.

Cerpen Tentang Guru Menyoal Sila Ketuhanan Yang Maha Esa

“Bikin mangkel aja wali murid yang satu ini. Selalu bawa-bawa agama,” kata Bu Sulis, guru BK, usai menerima telefon dari salah satu wali muridnya.

Guru-guru di ruang itu sudah sangat paham. Pasti orang tua Si Leo. “Padahal namanya Leo, bukan nama islam,” komentar Bu Ida. “Iya, kelakuannya juga tidak mencerminkan anak berakhlak,” tambah Bu Sutin. “Ayahnya selalu nyalahin guru. Wong memang anaknya yang nakal,” kata Bu Fatma. “Yang lainnya loh, tidak ada yang begitu,” kata Bu Ima. Bu Ismi, guru termuda yang baru lulus S1, hanya berkomentar dalam hati dengan kebingungannya. Sedangkan Bu Ela asyik mendengarkan lagu dangdut di ponselnya. baca selengkapnya Menyoal sila satu ketuhanan yang maha esa

Cerpen pendidikan ini berkisah tentang guru, tentang kehidupan guru di sekolah, tentang kinerja guru. Karakter guru juga beragam, bukan hanya siswa yang beragam karakternya. Dalam cerpen ini diungkap beberapa karakter guru dan pandangan mereka terhadap pendidikan.

Itulah beberapa contoh cerpen pendidikan yang cukup menarik untuk dibaca. Banyak pesan moral yang disampaikan, harapannya memberi sumbangsih ide peningkatan kwalitas pendidikan di negeri ini. Cerpen ini walau hanya cerita fiksi, sebagian ceritanya diangkat dari kisah nyata yang terjadi di dunia pendidikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *