KENAPA PENGAJIAN DIBUBARKAN

ceramah pengajian, sunnah, bid'ah, wahabi, aswaja, ormas

(Sekedar Opini)

Sekedar opini tentang ceramah pengajian yang pernah beberapa kali dibubarkan. Saya mencoba untuk memposisikan diri se-netral mungkin. Maaf, jika terasa tendensius. Saya tetap hormat ulama kelompok lain. Tulisan ini saya buat untuk mengajak semua umat islam untuk bersatu dengan tidak selalu membahas hal-hal yang berbeda.

Ceramah Pengajian Menyinggung Perasaan

Ada ceramah pengajian dibubarkan, bahkan, oleh ormas islam juga. Menyedihkan, sesama muslim. Tetapi, coba kita perhatikan sisi psikologi sosial. Ada dua ormas berbeda prinsip. Mereka memandang satu hal berbeda. Kelompok A mengatakan, “Ini dilarang”, kata kelompok B, “Ini dianjurkan”. Pandangan mereka berlawanan tentang satu hal.

Coba perhatikan ajaran dua kelompok tersebut. Jika kelompok B menyampaikan ajarannya pada masyarakat lewat ceramah pengajian, maka masyarakat boleh milih sesukanya: mau melakukan atau tidak. Itu pilihan bagi mereka. Nah, berbeda dengan kelompok A. Jika kelompok A yang menyampaikan ajarannya pada masyarakat yang sudah biasa dan bahkan suka dengan amalan tersebut, “Ini bid’ah, ini sesat.” Padahal yang mereka bilang bid’ah dan sesat itu merupakan ajaran ulamak panutan mereka. Kira-kira bagaimana respon mereka?

baca juga: Konflik Wahabi dan Ahli Bid’ah

Menyikapi Perbedaan Pendapat

Perbedaan diantara ulama atau ilmuan terjadi bukan hanya dalam hal agama, dalam science pun begitu. Agama disampaikan pada umat lewat ceramah atau pengajian agar mereka ingat Tuhan penciptanya, agar mereka melaksanakan perintah dan larangan-Nya; bukan sibuk membahas PERBEDAAN PENDAPAT dan berdebat. Merasa paling baik itu ujub.

Menurut saya begitu.

Ada sebagian dari kelompok A yang mengadu, “Mereka menuduh kami wahabi, padahal kami menegakkan sunnah.” Kata kelompok B, “Dulu kami diam saat kami dan ulamak kami dituduh ahli bid’ah. Kami menghargai perbedaan.”

Waktu di pondok, kyai saya mengingatkan santri, “Kalian sudah berilmu, hati-hati kalau pulang ke masyarakat, jangan melakukan cara-cara ibadah yang berbeda dengan yang biasa dilakukan, biar tidak bikin ribut. Seharusnya orang beribadah, malah jadi ribut melihat kalian.” Begitu nasehat beliau. Bukan kami sepakat dalam segala hal, perbedaan diantara kami pun banyak. Bahkan memang ada forum diskusi di pesantren, kami biasa debat, tapi bukan di masyarakat umum.

Lalu kenapa pengajian dibubarkan? Saya yakin pembaca tahu jawabannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *