Kenapa Harus Sekolah?

Menarik membaca blog Mas Ahmad Wibawa tentang pebisnis sukses yang DO dari kuliah. Memang, rekan-rekan mahasiwa, bahkan yang sangat rajin belajar (bukan masuk kuliah) sekalipun mengagung-agungkan keberhasilan mereka, juga tindakan mereka keluar dari kampus.

Padahal, tidak semua yang DO dari kampus itu sukses. Sependapat dengan Mas Ahmad Wibawa, mereka sukses bukan karena DO-nya, tapi karena semangatnya berjuang untuk sukses.

Baru saja buka beberapa situs berita, mencari berita menarik. Ternyata nemu artikel serupa, tentang pemuda sukses yang keluar dari sekolah menengah, bahkan memang diijinin oleh ibunya, di situs BBC. Wah, luar biasa. Pemuda tersebut adalah pendiri penyedia blog Tumblr yang dibeli Yahoo senilai US$1,1 miliar, David Karp. Ia tidak memiliki ijazah sekolah menengah atas namun menjadi miliarder sebelum menginjak 30 tahun.

Dia memutuskan keluar dari sekolahnya karena menilai bahwa pendidikan sains komputer di sekolahnya tidak begitu bagus. Pada usia 16 tahun, ia sudah membuat situs sendiri dan mengikuti kursus tambahan matematika serta magang di perusahaan animasi.

Dari kisah David Karp, kita jadi tahu, yang membuat sukses itu bukan sekolah  bukan kampus, juga bukan kenekatan keluar dari sekolah atau kampus (DO), melainkan belajar yang tekun.

Jadi, David Karp sukses bukan melulu karena DO, tapi karena usahanya. Sebenarnya dia bukan DO, tapi memilih cara belajar yang menurutnya lebih baik, yakni tidak di sekolah. Jadi menurut saya, kurang tepat jika dikatakan DO.

Tempat belajar tidak harus sekolah. Tetapi, di negeri kita, Indonesia, “Lebih baik tidak berilmu dari pada tidak berijasah.”

Siapa yang salah?

Bukankah salah satu agama yang mayoritas di negeri ini mengajarkan bahwa orang berilmu diangkat derajatnya beberapa derajat melebihi yang lain?

*gambar dari celebritynetworth.com

6 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *