KELOMPOK MAHA BENAR dan KEBENARAN MUTLAK

Wahabi, Aswaja, sunnah, bid'ah, ormas islam, salafi

“Makanya, ngaji sama ustadz yang benar, ustadz nggak benar gitu diikutin?”

“Ciri-ciri ustadz yang benar, seperti apa?”

“Yang ikut sunnah. Mereka usadz-ustadz sunnah, lurus akidahnya.”

“Ustadz yang saya ikuti juga bilang ikut Nabi, orang-orang juga bilang begitu.”

“Ikut sunnah apanya…. Wong masih suka amalan bid’ahh gitu.”

Ari yang sedang muroja’ah merasa terganggu dengan perdebatan kedua temannya tersebut.

“Dia alumni Al Azhar Mesir.”

“Alumni al Azhar belum tentu lurus akidahnya.”

“Terus alumni mana yang benar dan lurus?”

“Alumni kampus apa saja kalau lurus, ya lurus?”

“Untuk mengetahui lurus atau tidak?”

“Ya, ikut sunnah.”

“Ciri-ciri sunnah?”

“Tidak melakukan bid’ah.”

Baca juga: Kenapa pengajian dibubarkan

Menghela nafas. “Suatu amalan dinilai sunnah oleh sepuluh ustadz dan dinilai bid’ah oleh sepuluh ustadz yang lainnya. UStadz-ustadz yang manakah yang lurus?”

“Coba kamu ngaji sama ustadz-ustadz yang lurus, pasti paham nanti.”

“Jawab pertanyaan saya dulu.”

“Tidak usah bingung, ini saya kasih tahu ustadz-ustadz sunnah.”

“Berarti tidak ada ukuran standard atau ukuran baku untuk menentukan apakah seorang ustadz itu ahli sunnah atau ahli bid’ah?”

“Ada.”

“Apa? Kampus tidak bisa dijadikan ukuran, terus apa acuannya?”

Ari yang sedang muroja’ah hafalannya terhenti oleh perdebatan Farhan dan Aldo, ia lupa kelanjutan ayat yang sedang ia baca. “Begini, Farhan itu kebenaran, maka, ikuti apa yang dikatakan Farhan. Aldo itu kesalahan, jadi, tidak usah berusaha benar.”

Aldo mau tertawa. “Ngawur kamu, Ri…!!”

“Andai saja mulai tadi kalian baca Quran, sudah nambah berapa ayat hafalan kalian?”

“Ini penting Ari. Bid’ah bisa menjerumuskan seorang muslim ke neraka,” kata Farhan.

“Kamu yakin sekali pasti masuk surga dengan pemahamanmu ya… Luar biasa sekali bisa tahu pasti dengan yakin sekali kalau sudah mendapat pemahaman paling benar. Enak, tidak usah nangis-nangis berdoa, udah tak perlu minta dipahamkan sama Allah.”

Farhan tersenyum, “Yaa… tidak begitu juga, Akhi.”

“Pernah tidak, mengadu sama Allah, memohon sama Allah karena merasa takut berada di jalan yang salah?”

“Loh, kita ini harus yakin bahwa kita sudah berada di jalan yang benar.”

“Shohih, saya juga begitu. Tapi apa kwalitas kebenarannya menyamai kebenaran yang dimiliki Allah?”

“Yaa… Tidak, Akhi.”

“Banyak ulamak, sama-sama belajar, bahkan di kampus yang sama, lalu berbeda pendapat. Sahabat yang belajar langsung sama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pun berbeda dalam beberapa hal. Ustadz-ustadz di SMA Zaid bin Tsabit Karang Sengun ini pun juga banyak yang beda pendapat. Lalu apa itu kebenaran?”

“Wallahua’lam, saya hanya berusaha meluruskan.”

“Iya, tapi yang lurus itu yang bagaimana kalau semua yang berbeda merasa lurus?”

“Yaa… Saya ingin menunjukkan bahwa tuduhan wahabi itu tidak benar.”

“Mereka juga ingin menunjukkan bahwa tuduhan bid’ah itu tidak benar.”

“Tapi itu kan memang dilarang oleh Nabi?!”

“Memang. Bid’ah memang dilarang oleh Nabi, tapi, tidak semua ulamak sepakat hal apa saja yang termasuk bid’ah, di semua golongan berbeda pendapat. Ada seratus amalan, ada sepuluh ulamak. Dari sepuluh ulamak tersebut berbeda dalam mengkategorikan seratus amalan tadi, ada yang mengatakan nomor satu hingga sepuluh bid’ah, ada juga yang bilang, satu sampai lima saja yang bid’ah. Udah, perdebatan kalian sudah menyita waktu muroja’ah saya.”

“Afwan, Akhi.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *