Kawin Sedekah Wanita Ahli Bid’ah

Cerita nikah mut'ah, Kisah Cinta Tragis

Kisah cinta tragis ini hanyalah kisah fiktif, sebagian memang diangkat dari kisah nyata. Tokoh yang ada dalam cerita cinta ini juga tokoh fiktif, tidak ada di dunia nyata. Jika ada kesamaan, itu hanyalah karena kebetulan saja. Ceritanya boleh dibilang permainan cinta, sebuah kisah cinta yang dialami seorang perempuan desa yang cukup tragis.

Kisah Cinta Tragis Tahun 80an akhir

Rahma menangis di kamar, menutup kepalanya dengan bantal. Ibunya duduk di sampingnya. Sudah dua hari dua malam ia menangis begitu. Makan pun harus dipaksa. Tetapi, sang ayah tetap tidak mau kalah. Keputusannya sudah final, Rahma harus menikah dengan Bindereh Bakir, seorang tokoh desa putra Kyai Abdullah. Rahma masih berusia 17 tahun, sedangkan Bindereh Bakir sudah 42 tahun. Menjadi bagian dari keluarga tokoh agama desa itu suatu kebanggaan. Tentu saja orang tua Rahma tidak mau kehilangan kesempatan itu. Orang-orang pada berbangga, katanya, beruntung sekali Rahma dikehendaki oleh seorang kyai.

Saiful, pemuda yang suka sama Rahma tidak bisa berbuat apa-apa. Seandainya saingannya pria biasa, tentu ia bisa nekad membawa Rahma kabur. Tetapi, ia juga tidak berani berurusan dengan keluarga kyai. Tidak ia sangka kisah cinta yang jaga tragis akhirnya. Hari pernikahan pun tiba. Rahma tidak bisa menolaknya. Pesta pernikahan dibuat meriah. Tentu saja Rahma tampak tidak bahagia. Kisah cinta ini tragis baginya. Pesta usai, Rahma berdua dengan suami di kamar. Tidak menghiraukan nasehat ibunya, katanya kalau sudah di kamar penantin, permudah suami untuk menikmati dirinya. Tetapi Rahma duduk saja di ranjangnya, tidak bersikap mesra.

Tak terasa, 20 tahun sudah berlalu. Anak pertama Rahma sudah berusia 18 tahun. Kelima anaknya belajar di pesantren semua, termasuk si bungsu yang masih berusia 11 tahun. Bahkan anak pertamanya belajar di Hadramaut, Yaman. Sang suami sudah tua. Beliau sudah sakit-sakitan. Sudah banyak penyakit yang menjangkiti tubuhnya. Hari-hari Rahma sibuk mengurus suami. Untungnya sebagai tokoh agama, ada beberapa wali santri dan santrinya yang ikut membantu urusan rumah tangganya. Walau mereka tidak mukim karena lembaganya hanya madratsah diniyah tingkat MI, tapi mereka sering ke situ bantu-bantu.

Tak lama, suami Rahma pun meninggal dunia. Habislah tokoh desa. Beliau generasi tokoh termuda, tokoh-tokoh agama yang lain sudah meninggal dunia. Anak-anak beliau dan anak-anak tokoh lain masih belajar di pesantren. Sebagian ada yang tidak minat belajar ilmu agama, katanya tidak keren. Bahkan ada yang pindah aliran pemahaman. Diantara mereka ada yang suka menyesatkan tetangganya, termasuk para ustadz.

Lama ditinggal suami, jauh dari anak-anak, rupanya Rahma merasa kesepian. Hari-harinya kadang menghayal, kadang teringat masa lalunya waktu masih muda bersama Saiful. Ingat perjodohan yang tidak ia kehendaki. Kadang ingin merasakan nikmatnya cinta yang tulus, bukan cinta terpaksa. Sebagai istri tokoh agama dirinya kurang bebas bergerak, selalu menjadi perhatian orang. Tetapi, semakin hari dirinya semakin merasa sedih dengan kesepiannya.

Sempat terpikir untuk bersuami lagi. Meskipun anak sudah lima, tapi hasrat biologis masih perlu untuk dipenuhi. Saat sendirian di rumah, hayalan-hayalan mesra sering datang menghantui. Suatu hari ia mencoba jalan-jalan ke pasar, tidak mau belanja sebenarnya, hanya sekedar ingin menikmati suasana di luar saja. Ia ditemani Bu Subia, salah seorang wali murid yang hingga kini masih sering membantunya.

“Bu Subia kok jarang ke rumah lagi?”

“Anu, Neng, seminggu yang lalu saya sibuk, dapat suami lagi,” jelasnya, agak berbisik. “tapi cuma seminggu.”

“Loh, kok cuma seminggu?”

“Akadnya memang cuma seminggu.”

“Kok ada nikah cuma seminggu?”

“Iya, katanya semakin sering menikah, semakin besar pahalanya?”

“Kata siapa, Bu? Aliran sesat itu.”

“Ustadz kok, Neng. Pintar ilmu agama dia.”

Rahma tahu itu aliran syiah, kata orang mereka memang menjalankan nikah mut’ah, proses pernikahan yang hanya bersifat sementara. Beberapa tahun terakhir aliran syiah memang sudah mulai masuk wilayahnya. Almarhum suaminya sempat beberapa kali membahas tentang perkembangan syiah bersama para ustadz. Tetapi, Rahma tak terlalu memperhatikan. Ia bukan wanita yang berilmu, hanya kebetulan saja dinikahi seorang kyai.

“Ini saya diajak nikah lagi.”

“Bu Subia mau?”

“Katanya pahalanya besar, Neng.”

Neng Rahma merasa kehilangan derajat. Dulu apa yang dikatakan kyai dan keluarga kyai, pasti dianggap benar. Sekarang kyai sudah kehilangan pamornya. Sudah banyak yang merasa lebih berilmu dibanding kyai. Apalagi era sosial media, pengetahuan agama bertaburan seperti pasir di halaman. Ia pun tidak memaksa mendebat Bu Subia. Biarlah ia menjalani hidupnya, menikmati kawin kontrak. Bu Subia lebih tua empat tahun dari dirinya, ternyata hasrat biologisnya cukup tinggi juga hingga ia mau kawin kontrak.

“Orang mana yang ngajak nikah, Bu?”

“Orang Arab, Neng. Tinggi besar orangnya. Katanya mau dua hari aja.”

Keduanya hanya muter-muter saja di pasar, tidak membeli apa-apa. Rahma mengajak Bu Subia ke warung bakso. “Dikasih uang belanja berapa, Bu?”

“Yang seminggu kemarin dikasih 20 juta.”

Rahma kaget. Bagi orang desa, itu banyak sekali. “Kapan mau nikah lagi?”

“Katanya besok mau ke rumah.”

Semakin hari pernikahan kontrak Bu Subia tersebar di masyarakat. Tokoh agama desa sudah tidak kuat. Jangankan kawin kontrak yang resmi menurut pemahaman kelompok mereka, perselingkuhan pun sudah biasa terang-terangan. Bahkan katanya sudah ada pemuda desa yang ikut melakukan kawin kontrak. Rahma mulai bosan juga dengan kehidupan gaya lama. Kehidupan keluarga kyai yang cukup ketat dengan peraturan etika sepertinya sudah tidak cocok diterapkan di zaman sekarang.

“Suami kemana, Bu?” tanya Rahma saat melihat Bu Subia lagi di dapurnya.

“Sudah selesai, Neng. Akadnya cuma sehari, dia keburu ada urusan di laur kota.”

Rahma melihat Bu Subia memegang hp android. “Bisa main hp, Bu?”

“Iya, Neng. Kemarin dibelikan suami terus diajari cara pakenya. Seharian saya belajar.”

Tiba-tiba ada yang menelfon Bu Subia lewat whatsapp. Ia angkat:

“Siapa?”

“Saya temannya Shodiq,” suaranya agak keras. Rahma bisa mendengar.

Mereka membahas tentang kawin kontrak. Rahma jadi penasaran dan ingin tahu dasar hukumnya. Sebenarnya bukan tertarik menambah ilmu, penasaran saja. Memang syiah ini jadi perdebatan, ada yang bilang mereka tidak salah, oknum saja yang berulah. “Banyak sih, tapi saya tidak tahu, mau apa tidak,” kata Bu Subia. Rahma mendengar pria itu tanya wanita lain yang juga mau untuk kawin kontrak.

Rahma duduk di dekat Bu Subia, “Boleh saya bicara sama dia?”

Bu Subia langsung memberikan handphonnya. Rahma langsung menanyakan hukum kawin kontrak. Pria itu menjelaskan dengan fasih dengan referensi yang cukup banyak. Rahma mendengarkannya dengan seksama. Banyak cerita sejarah islam yang disampaikan oleh lelaki itu. Lama ia memberi penjelasan.

“Benar juga ya, Bu,” kata Rahma.

“Neng mau juga?” Bu Subia merasa mendapat teman.

“Tapi, nanti jadi omongan orang. Bagaimana kalau hamil?”

“Sembunyi-sembunyi aja, Neng. Pahalanya besar, kok. Gampang kalau ingin tidak hamil.”

Sebenarnya bukan karena pahala, Bu Subia menikmati hubungan dengan pria muda. Kenikmatan itu yang disukainya. Rahma diam. Ia seperti menemukan emas, solusi atas masalah pribadinya: kesepian. Dengan cara ini dirinya bisa lagi memenuhi hasrat biologisnya. “Asal dirahasiakan, saya mau,” katanya.

“Baik, saya kasih tahu ke dia ya.”

Kisah Cinta Tragis dengan Para Pemuda Arab

Rahma dan Bu Subia diajak ke hotel. Keduanya dijemput di belakang pasar dengan mobil Pajero Sport. Ada 10 pria, 7 dari mereka usia 30an, yang tiga lagi baru berusia belasan tahun. Tentu saja mereka ganteng-ganteng, keturunan Arab. Rahma senang sekali. Pikirnya, dapat pahala, bisa bercinta dengan pria-pria tampan. Dirinya berharap dapat yang muda, yang masih usia belasan tahun. Hitung-hitung balas dendam masa muda dulu.

Akad pernikahan per tiga jam. Rahma dinikahi oleh Abdullah, umur 17 tahun dan keduanya bercinta di salah satu kamar hotel. Bu Subia di kamar lain. Rahma tak menyangka dirinya akan mendapat kenikmatan seperti ini. Dipeluknya pemuda itu dengan erat. Tak terasa 3 jam berlalu. Cukup melelahkan bagi Rahma. Lalu berlanjut akad nikah berikutnya dengan Fathur, umur 38 tahun, juga 3 jam.

Sehari itu Rahma menikah dengan lima pria. Ia sangat kelelahan. Bu Subia juga.Tetapi, Rahma merasa puas sekali. Hasrat biologisnya terpenuhi, bahkan ia bisa menikmati bercinta dengan pria muda yang tampan. Ia diberi banyak uang dan hp android. Ia juga diajari cara mengunakan android, terutama cara menggunakan whatsapp. Nomor whatsappnya sudah dimasukkan ke dalam grup khusus. Tiba di rumah ia langsung tidur.

Jam dua pagi ia bangun. Sudah banyak pesan masuk di HP-nya. Rupanya banyak pemuda-pemuda Arab yang mengajaknya nikah. Kesempatan bagi Rahma memilih yang paling tampan. Tetapi, ia letakkan lagi Hpnya, lalu sholat malam. Ia semakin rajin ibadah, pikirnya, sekarang ia mendapat limpahan kebahagiaan. Usai sholat ia memilih lima pria, semuanya yang masih berusia belasan tahun. Rupanya dirinya ingin memuaskan hasrat masa muda dulu.

Jam enam pagi ia berangkat ke kota bersama Bu Subia. Seharian ia bercinta dengan lima pemuda Arab. Bu Subia kurang tahan lama-lama, ia minta berhenti jam tiga sore, minta istirahat. Terpaksa, lelaki yang bersamanya mencari wanita lain di grup. Rahma terus lanjut hingga malam. Seperti malam sebelumnya, tiba di rumah ia langsung tidur, sudah lelah sekali. Rupanya anak-anak muda Arab itu kuat-kuat. Suami Rahma dulu hanya beberapa menit, tapi para pemuda Arab itu dua jam lebih. Katanya, semakin lama, pahalanya semakin banyak.

Sering pergi berdua ke kota, rupanya ada tetangga yang curiga dan membuntuti mereka. Tersebarlah rumor tidak enak di desa. Ada yang bilang melacur, tapi ada juga yang bilang kawin kontrak karena Bu Subia pernah melakukannya di desa. Rahma merasa malu dengan rumor itu dan ingin pergi jauh saja. Untuk menghilangkan rumor di masyarakat, dia tidak mau keluar dulu. Tetapi, berat rasanya melewatkan sehari saja tidak bercinta dengan pemuda-pemuda tampan. Ia mencoba mencari akal agar tetap bisa bercinta dengan mereka.

Rahma dan Bu Subia yakin perbuatannya berpahala, tapi bukan pahalanya yang membuat keduanya bersemangat. Pahala itu abstrak. Nafsu birahilah yang mendorong keduanya melakukannya. Rahma mulai berpikir ingin pindah ke kota saja, tapi ia bingung dengan madratsahnya. Memang, selama ini dirinya tidak ikut ngajar, sudah ada ustadz yang mengajar di madratsahnya. Tetapi, hasrat bercintanya sulit ditahan. Akirnya ia mendapat ide untuk membuka toko di kota. Maklum, harta peninggalan suami banyak, lebih dari cukup buat modal bangun toko di kota.

Akhirnya Rahma mendapat jalan lagi. Ia membuat tempat khusus bercinta di kota, sangat aman tempatnya. Bu Subia ia jadikan penjaga toko bersama ponakannya. Sekarang rumor berubah. Kata orang-orang, “Bu nyai udah sibuk urus dunia, sudah tidak urus agama lagi.” Itu tidak masalah bagi Rahma. Apalagi di zaman ini sudah banyak tokoh agama berbisnis. Penghasilannya kan bisa buat biayai madratsah, bisa buat gaji para ustadz.

Baca juga: Hadiah cinta terindah suami ke 4

Kisah Cinta Tragis dengan Para Pelajar

Semakin lama usia semakin tua, Toko Rahma sukses dan sudah ada lima cabang. Anak pertamanya sudah pulang, menikah dengan orang Jakarta dan menjadi ustadz di sana. Kini sudah tidak banyak anak muda yang suka mengajak dirinya kawin. Mungkin karena usia. Tetapi, dirinya masih ingin. Ia pun nekad menggunakan nama samaran mempromosikan diri melalui sosial media. Anak muda yang mau menikah dengan dirinya, akan mendapatkan imbalan uang.

Rahma mendapat banyak inbox. Ia pilih yang usianya masih muda. Lelaki pertama yang ia pilih rupanya seorang mahasiswa fakultas pertanian, Firman. Usianya baru 18 tahun. Tentu saja pemuda itu senang karena mendapat uang. Tidak tanggung-tanggung, pemuda itu minta seminggu, tapi Rahma menolak karena pemuda itu tidak kuat lama-lama bercinta. Kata Rahma, kalau mau, datang lagi aja. Jadi, sehari Rahma menikah dengan enam hingga delapan pemuda.

Dirinya pun terkenal di kalangan mahasiswa. Semakin hari, semakin banyak mahasiswa yang menikah dengannya. Senang mereka, tidak perlu minta uang sama orang tua lagi. Rahma juga merasa senang membantu pendidikan mereka, bahkan ada yang dibelikan motor. Pernah ia menikah dengan anak kelas XI SMA. Lucu juga pikirnya. Anak segitu mau tidur bersama dirinya yang sudah gendut. Badannya masih kurus. Tapi, ia layani aja, hitung-hitung bantu biaya sekolahnya, katanya. Banyak mantannya yang sudah lulus kuliah. Mereka bayar uang kuliah dengan uang dari Rahma.

Firman, mahasiswa pertama yang kencan dengannya, rupanya punya kelainan odipus plus. Dia memang pecinta wanita tua. Dulu ia ditolak untuk menikahi Rahma selama seminggu karena tidak kuat bercinta lama. Ia pun mencari info tentang strategi kuat di ranjang. Ia pun menemukan info suatu ilmu kesktian yang bisa membuat kuat di salah satu grup Facebook. Maharnya Rp 500.000,-. Karena tidak punya uang, ia ajak Rahma nikah. Setelah dapat uang dari Rahma, ia pun menemui orang yang menawarkan ilmu kuat tersebut.

Firman diajari mantra-mantra magic cinta dan diberi beberapa ramuan dan cara meracik ramuan tersebut. Setelah seminggu ia amalkan, ia coba hubungi Rahma pagi-pagi sekali karena tidak ada kuliah, ia kontrak Rahma selama dua jam. Ternyata ia kuat dan belum puas. Siangnya ia ajak nikah lagi, tapi Rahma lagi sama pemuda lain. Baru sorenya ia ajak Rahma kontrak empat jam. Rahma tidak mau karena benturan dengan waktu sholat. Jadi, kalau mau empat jam, sehabis maghrib.

Rupanya empat jam tidak memuaskan Firman. Firman minta lanjut besok 7 jam. Rahma setuju. Luar biasa. Rahma yang kualahan kali ini. “Kalau kamu mau, jadilah istriku selamanya. Aku mencintaimu,” kata Firman. Rahma berpikir sejenak. Ia kelelahan sekali. Akhirnya, ia setuju asal tetap menjalin hubungan rahasia. Mungkin ia lupa sama pahala kawin kontrak. Firman tidak kerja. Ia dibiayai kuliah dan dipenuhi kebutuhan hidupnya oleh Rahma.

Rahma kwalahan melayani suaminya. Ia pun mengizinkan Firman menikah lagi. Sebagai pecinta wanita tua, ia mencoba meminta Bu Subia jadi istrinya. Rupanya Bu Subia tidak mau. Ia lebih suka kawin kontrak, dapat banyak uang. Firman pun mencari wanita lain, ia mencari ibu-ibu tua di pasar. Cukup aneh perbuatannya, ia mendekati ibu-ibu tua dan ditanya masih punya suami atau sudah janda. Kalau sudah janda, ia ajak nikah Tentu saja mereka tidak mau diajak nikah sama anak muda. Tetapi, rupanya ada juga yang mau, seorang penjual tempe, Bu Sutina, berusia 58 tahun.

Habis akad, Bu Sutina berhenti berjualan. Ia tinggal di rumah cinta rahasia milik Rahma. Firman bercinta dengan dua istri seharian. Bergantian tiga jam, tiga jam. Hubungan ketiganya berlanjut hingga Firman lulus kuliah, lalu lanjut S2 dengan uang istri. Senang sekali dia, bahkan istri mudanya pun ditanggung sama Rahma. Teman-teman Firman banyak yang tidak suka padanya. Dulu, banyak yang bisa dapat uang dari Rahma. Tapi sejak dinikahi selamanya oleh Firman, mereka tidak punya kesempatan lagi.

Datangnya Cahaya Surga

Di kampus tempat Firman menempuh pendidikan Master ia sering ikut kajian. Temannya yang mengajaknya. Awalnya ikut-ikutan, tapi akhirnya ia ketagihan. Kedua istri rahasianya pun sering diajaknya nonton pengajian di YouTube. Dari pengaian itulah ketiganya mulai tahu apa itu ajaran syiah dan kawin kontrak. Kata ustadz di video itu, syiah itu menganggap al Quran yang ada sekarang ini palsu. Mereka juga menganggap tiga sahabat nabi pengkhianat. Rahma dan Bu Sutina kaget mendengar penjelasan itu.

Lama-lama Rahma mulai menyadari kesalahannya dan merasa banyak dosa. Rupanya ia telah tersesat. Masa muda dulu kisah cintanya menyedihkan dan tragis, rupanya kini lebih tragis lagi. Sesuai anjuran salah seorang ustadz di YouTube yang ditontonnya, tebuslah kesalahan dengan amal-amal yang pahalanya tidak berhenti mengalir seperti membangun pesantren atau tempat ibadah. Rahma juga berniat akan menghafal Al Quran agar mendapat keutamaan ahli Quran dan mendapat surga terbaik. Ia yakin, Tuhannya Maha Pemaaf.

“Ahli Quran dihiasi perhiasan dan pakaian terindah di akhirat. Kedua orang tuanya dipakaikan mahkota cahaya dari surga. Disuruh mengajak pasangan dan semu aketurunannya. Dipersilahkan melewati semua pintu surga. Disambut malaikat di semua pintu surga. Dan bersama rombongan keluarga menuju surga terbaik,” begitu kata Ustadz.

Rahma sangat menyesal. Bertahun-tahun ia berbuat dosa, bahkan dengan bangga. Kisah cinta yang cukup tragis baginya. Mulai hari ini, ia bertekad untuk memanfaatkan hartanya di jalan Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *