Janda Tak Masalah, Asal Cantik dan Beradab

cerita janda beradab

“Itu siapa?”

“Tantenya Rofik. Kenapa? Naksir? Janda dia.”

Ari sama Taufiq sedang menyambut tamu yang sedang melayat ke rumahnya Rofiq. Mereka berdiri di bawah pohon jambu di depan rumah Pak Razi, sebelah baratnya rumah Rofiq.

“Punya anak berapa?”

“Kepo banget.”

“Cantik banget ya…”

“Hahahahahhaaa…. Ri…. Ri… Cinta memang membutakan. Memangnya mau kamu sama perempuan kampung? Tidak berpendidikan.”

“Husss… jangan keras-keras. Malu. Biasanya belajar di pesantren kan?”

“Iya, dia mondok sejak lulus SD, berhenti setelah menikah dulu. Suaminya udah meninggal karena strok. Punya anak dua.”

“Berarti dia bisa Bahasa Arab?”

“Baca bisa, kayak santri biasanya, kalau bicara, kayaknya tidak.”

“Umur berapa dia?”

“Kamu serius?! Nggak sekolah loh…”

“Yang sarjana banyak yang tidak mampu sabar, tak mampu mensyukuri nikmat,” kata Ari. “Bahkan tak tahu cara menghargai orang lain, tak hormat orang tua…”

“Waaaahhhh…. Bijaksana banget Kamu.”

“Tidak semua begitu, tapi gelar sarjana bukan ukuran kwalitas karakter. Keren sih, iya. Tapi kesenangan itu sesaat, ketentraman hidup, itulah impian semua orang.”

baca juga: Bangga Dapat Perawan

Hari ini hari ke tujuh meninggalnya neneknya Rofik. Sudah tradisi, selama 7 hari rumah duka ramai dikunjungi tetangga dan saudara. Mereka membawa beras, gula, mie, uang dan semacamnya untuk disumbangkan kepada keluarga yang berduka. Biasanya mereka diberi makan dan minum oleh tuan rumah. Karena itulah para tetangga membantu masak-masak di dapur, sebagian menyambut tamu. Tradisi ini, kata sesepuh desa berdasarkan kisah sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang tertulis dalam kitab Al-Hawi lil Fatawi Juz 2 Hal 198: Berakata Umar : “shodaqoh setelah kematian maka pahalanya sampai tiga hari dan shodaqoh dalam tiga hari akan tetap kekal pahalanya sampai tujuh hari, dan shodaqoh tujuh hari akan kekal pahalanya sampai 25 hari dan dari pahala 25 sampai 40 harinya akan kekal hingga 100 hari dan dari 100 hari akan sampai kepada satu tahun dan dari satu tahun sampailah kekalnya pahala itu hingga 1000 hari.”

Tradisi ini juga sesuai dengan pendapat syeikh bin baz dalam Majmu fatawa wa maqalat Jus 13 halaman 371.

حُكْمُ حُضُورِ مَجْلِسِ الْعَزَاءِ وَالْجُلُوسِ فِيه
(س): هَلْ يَجُوزُ حُضُورُ مَجْلِسِ الْعَزَاءِ وَالْجُلُوسِ مَعَهُمْ.. ؟
ج: إِذَا حَضَرَ الْمُسْلِمُ وَعَزَّى أهْلَ الْمَيِّتِ فَذَلِكَ مُسْتَحَبٌّ ؛ لمَا فِيه مِنَ الْجَبْرِ لَهُمْ وَالتَّعْزِيَةِ ، وَإِذَا شَرِبَ عِنْدَهُمْ فِنْجَانَ قَهْوَةٍ أَوْ شَاي أَوْ تُطَيِّبَ فَلَا بَأسً كَعَادَةِ النَّاسِ مَعَ زُوَّارِهُمْ .

Soal: Bolehkah menghadiri Majlis Ta’ziyah (tahlilan) dan duduk-duduk bersama mereka..?
Jawab : Apabila seorang Muslim menghadiri majliz ta’ziyah dan menghibur keluarga mayit Maka hal itu disunnahkan karena dapat menghibur dan memotivasi kesabaran kepada mereka. Apabila minum secangkir kopi , teh atau memakai minyak wangi (pemberian keluarga mayit) maka hukumnya tidak apa-apa, sebagaimana kebiasaan masyarakat terhadap para pengunjungnya.”

“Dia itu seumuran mbakku, Ri. Lebih tua dari kamu.”

“Mbak Rusmi?”

“Iya.”

Taufiq menghampiri mbaknya yang sedang menyambut tamu juga di dekat pintu rumah Rofiq dan menanyakan usia tantenya Rofik, lalu ia balik lagi.

“Umur tiga enam katanya.”

“Dua tahun lebih tua dari aku. Tidak masalah.”

“Ri… Serius, kamu?!”

Ari tersenyum. Sepertinya sudah mantap sekali. “Dia nginap di sini kan?”

“Iya.”

Sepertinya Mbak Rusmi curiga. Ia pun menghampiri Ari dan Taufiq. “Ngapain nanya-nanya umur Warda?” tanyanya.

Taufiq tertawa.

“Jangan keras-keras…! Dia janda, Mbak?” tanya Ari.

“Iya, udah dua tahun.”

“Bisa bahasa Arab dia, Mbak?”

“Baca kitab, bisa.”

“Sama saya, mau nggak ya?”

“Serius kamu?!” Mbak Rusmi tertawa. “Lebih tua dari kamu lo….!”

“Nggak papa. Bisa bahasa Arab itu bekal untuk menambah ilmu.”

“Sih… Mau baca kitab terus, nggak mau kerja?”

“Beh, saya ini sudah sukses, tak perlu ribet lagi urusan ekonomi,” Taufiq tertawa.

“Senang dia dapat kamu.”

“Cieeeee…..!!”

“Ajak ke rumah sampean nanti, Mbak. Saya mau bicara sama dia.”

“Serius?! Jangan main-main. Dia tidak sekolah. Kamu tanya orang tuamu dulu. Kamu kan sarjana, dia tidak punya ijazah.”

“Jadi sarjana hanya bikin stres, Mbak. Malah suka mengkhawatirkan masa depan. Sulit jaga hati.”

“Ini mendadak bijak atau hanya karena cinta?”

Ari tersenyum. “Saya ini lagi belajar mensyukuri nikmat, karunia Allah yang terbaik.”

bersambung ke Dialog cinta antara ashar dan maghrib

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *