Ibu Guru Cantik Yang Malang

Ibu Guru Cantik Yang Malang

Yudi sering diejek sama teman-temannya. Katanya dia penakut. Dulu waktu kelas X, dia punya banyak teman. Tetapi, teman-teman yang akrab dengannya sudah pada naik derajat. Di sekolahnya, siswa berkelas itu bukan yang juara, tapi yang berani nembak cewek. Itu dulu waktu kelas X, sekarang sudah kelas XI, kalau hanya pacaran biasa, itu sudah tidak keren

“Randi, kemana?”

Randi yang terburu-buru ke belakang perpustakaan berhenti sejenak mendengar panggilan Rehan. “Hey, ke belakang,” jawabnya setengah berbisik.

“Ngapain?”

“Sssstt….”

Rehan tertawa. “Mantap.”

Ardian mendekati Rehan. “Randi ke belakang perpustakaan?” tanyanya pada Rehan.

“Iya. Sama siapa?”

“Katanya kakak kelas IPA 1.”

“Yang mana?”

“Itu yang terkenal.”

“Yang juara satu itu?”

“Iya.”

“Serius…?! Keren dia kalau bisa dapetin cewek itu. Kelas banget cuy.”

“Lu gimana?”

“Lu sendiri?”

“Pengen tahu tarjet gua?”

“Siapa?”

Ardian mendekat ke Rehan. “Gua udah biasa sama anak SMA.”

“Mahasiswa?”

“Lihat…” Ardian menunjuk kantor kepala sekolah.

“Gila lo… hahahahaaaa… Apa enaknya?”

“Lu bisa dapetin dia?”

“Aneh. Lagian, buat apa?”

Dani menghampiri mereka. “Lagi asyik kayanya.”

“Waaaaahhh… sini bro.”

“Lagi ngomongin apa?”

“Biasa.”

“Eh, si Randi sama…”

“Ssssttt… lagi main mereka.”

“Mantep dia. Aku ada tarjet baru.”

“Siapa?”

“Guru baru.”

“Tos dulu,” kata Ardian.

“Lu ingin dia juga?”

“Kepala sekolah.”

“Gila lu, berat coy.”

“Lihat aja. Aku bisa.”

Rehan malah terpancing ingin dapat guru juga. Dulu waktu baru masuk di sekolah ini, jangankan nembak cewek, mau nyapa saja takut. Sekarang, sudah banya yang jadi korbannya. Kakak kelas pun ia sikat, hanya saja dia kurang berani sama cewek yang berkelas di mata senior-seniornya. Ia masih kalah berani sama rekan-rekannya. Tetapi, melihat dua rekannya mulai berani buat tarjet guru, ia kok ingin diam-diam membuktikan. Jika dia bisa, pasti di mata teman-temannya ia akan terpuji sebagai pemberani.

Baca juga: Kepala sekolahku cantik

“Dan, Pak Rahman itu suka sama Bu Silvi?” tanya Ardian.

“Iya. Lihat saja, gua buat menangis dia.”

“Okey, gua ingin tahu.”

“Lu juga.”

Ardian sama Dani mulai berpikir keras untuk mendapatkan Bu Silvi dan Bu Rahma, kepala sekolah. Keduanya kini menjadi incaran kedua muridnya. Dani dan Ardian mulai sering main ke tempat tinggal Bu Silvi dan Bu Rahma. Mereka mencari peluang agar bisa beraksi. Ardian cepat sekali menemukan ide. Setelah sekitar seminggu ia sering main ke daerah Bu Rahma, akhirnya ia mendapat ide untuk beraksi di desa Karang Nangka. Bu Rahma pulangnya melewati desa tersebut. Ada persawahan jauh dari rumah penduduk sekitar 500 meter.

Biasanya guru pulang 15 menit sitelah siswa pulang. Ardian langsung ke lokasi dan ganti pakaian. Tetapi, rupanya sedang ada orang panen. Rencananya pun gagal. Hari berikutnya ia ke sana lagi, tapi gagal lagi karena ada truk mogok. Di sekolah ia saling tanya sama Dani, rupanya Dani juga belum berhasil. Akhirnya, hari Jumat Ardian mendapat kesempatan, jalanan lagi sepi dan hanya ada Bu Rahma. Ia mengamatinya di kaca spion. Setelah agak dekat, ia segera memakai masker, lalu ketika Bu Rahma di belakangnya, ia langsung menghadangnya dan menodongkan pisau dan menyuruhnya turun. Bu Rahma ketakutan dan turun. “Letakkan di pinggir motornya…!!” Bu Rahma berharap ada orang lewat, tapi tidak ada, Ardian mendesaknya. Begitu ia meletakkan motornya di pinggir jalan, ia langsung diseret ke dalam lahan tebu.

Usai melakukan aksinya, Ardian menasehatinya. “Kalau sampai kita ketahuan orang, kamu yang malu,” katanya pada Bu Rahma. Bu Rahma menangis. “Aku keluar duluan. Aku kasih kode kalau sudah sepi.”

“Gimana, Dan?”

“Hampir,” jawabnya.

“Ah, hampir terus. Aku udah puas…!! Hahahahahahaa…!!”

“Serius lu…?!”

Ardian memperdengarkan rekaman di HPnya, hanya berupa audio. “Dengar.”

“Hebat lu….!!”

Beberapa hari kemudian mulai terdengar desas-desus kabar tidak enak. Tidak sengaja ada guru mendengar siswa membicarakan Bu Rahma dan Ardian. Kabar ini begitu cepat tersebar di seluruh sekolah. Bu Rahma pun mendengarnya. Tetapi, ia tidak mau gegabah, jika ia memanggil Ardian, pasti tambah malu. Sekarang ia mulai yakin, orang yang memperkosanya beberapa hari lalu adalah Ardian. Tetapi, ia akan tetap merahasiakannya agar nama baiknya terjaga.

Sepulang sekolah, Bu Rahma ke rumah Ardian. Tetapi, Ardian tidak di rumah, hanya ada ayah dan ibunya. Bu Rahma menunggu Ardian. Ayah Ardian pun mencarinya karena Bu Rahma akan terus menunggu hingga bertemu Ardian. Tak lama kemudian Ardian datang. “Maaf, Pak, Buk. Boleh saya bicara berdua sama Ardian?” pinta Bu Rahma. Kedua orang tua Ardian pun membolehkan. Keduanya bicara di dapur.

“Jujur Ardian, kamu yang di tengah lahan tebu itu?!” tanyanya sambil meneteskan air mata.

Ardian terdiam.

Bu Rahma segera menghapus air matanya. Ia tidak mau kedua orang tua Ardian tahu. Ia sudah yakin Ardian pelakunya. Ia segera pamit pulang. Tidak ia sangka muridnya tega pada dirinya. Padahal setiap hari ia tak lupa mendoakannya agar sukses. Dani tidak segera menemukan ide. Ia pun mencoba minta les privat sama Bu Silvi. Bu Silvi mau saja, hitung-hitung buat tambahan. Hari pertama Dani tidak melihat peluang. Masih buntu. Pertemuan ke-4 ia mencoba ngajak Bu Silvi ke rumah makan, mau traktir, katanya. Bu Silvi mau saja.

Dani mengajaknya ke warung spesial. Padahal, ia hanya mau mengajaknya ke jalanan sepi. Saat itulah ia beraksi. Bu Silvi menangis tidak berdaya. Dani beraksi di tengah tebu dan membunuhnya karena dia mengancam akan lapor polisi.

bersmbung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *