Gerakan Anti Ulama dan Anti ilmu

anti madzhab

Saudaraku seiman, mari saling doakan, mari bersatu. Berbeda pendapat itu wajar, karena manusia memang beda-beda. Jika memang meyakini saudara kita keliru, duduk dan berdialog dengan arif bersama ulama. Sejauh pengamatan saya, ada kelompok yang gencar sekali menyebar propaganda anti ulama dan anti ilmu. Sehingga mereka terkesan anti perbedaan. Mereka suka berbedat, padahal yang diperdebatkan sebenarnya sama pada hakikatnya.

Menjelekkan Saudara Seiman, Padahal Dirinya Sama

Suatu ketika saya bertemu saudara kita. Dia bilang, “Kalau ulama madzhab berbeda pendapat, pilih hadits saja.”

Saya tanya, “Semua orang bisa begitu?”

“Kalau sudah belajar boleh,” jawabnya.

“Ulama madzhab kan menghukumi berdasarkan Quran dan hadits yan mereka hafal. Sedangkan kita hanya tahu satu hadits atau beberapa saja. Mau embali ke hadits yang mana?”

“Ya, kalau awam ikut ustadz.”

“Berarti tidak kembali ke hadits, tapi ke ustadz.”

“Iya, tapi ustadz yang benar.”

2 Madzhab berbeda, lalu beralih pada ustadz yang berbeda. Jadinya 3 madzhab dengan madzhab baru.

“Siapa yang punya otoritas menentukan ustadz benar dan tidak benar? Apakah semua orang, termasuk yang awam berhak? Kalau ulama madzhab kan Nabi yang bilang generasi terbaik.”

Sampai di sini diskusi sudah membingungkan. Dia bilang asal sudah belajar sudah bisa menentukan mana ustadz yang benar dan yang tidak benar. Luar biasa. Jadi, tak perlu ada ulama yang mengatakan dia sudah tuntas belajar dan sudah berilmu, tapi cukup ikut ngaji, langsung boleh menganggap diri berilmu dan sudah bisa menilah ustadz atau bahkan ulama.

Ini sama dengan menjauhkan orang pada ilmu. Kalau seperti ini caranya, semua orang akan sombong merasa paling berilmu. Padahal, mereka berani menyalahkan ulama. Seharusnya, jika semua orang bisa demikian, maka tak perlu menyalahkan orang lain karena beda, sebab yang berbeda juga sudah ngaji. Apalagi ulamanya. Subhanallah… Mari saling doakan.

Propaganda Anti Ulama

Saudaraku seiman. Kita saling doakan, saling menghargai. Kesimpulan saya, mereka yang suka menjelekkan pengikut madzhab ini sebenarnya juga bermadzhab ternyata. Mereka menyuruh orang meninggalkan madzhab, tapi menyuruh mereka ikut ustadz panutan mereka. Ini kan sama dengan menambah madzhab. Tapi bukan madzhab dari generasi terbaik (salaf). Lalu untuk apa sebenarnya mereka ini mempermasahkan perbedaan pendapat? Mereka biasa menyampaikan ayat Quran dan hadits tanpa menyebut ulama yang menjelaskan ayat dan hadits tersebut. Ini membuat orang beranggapan seakan-akan dialah yang berilmu. Padahal dia baru beberapa hari mengaji. Ini bahaya.

Ini yang saya sebut anti ulama. Mereka mendengar ceramah seorang ustadz, isi ceramahnya ada ayat dan hadits. Mereka ini menyebarkan ayat dan hadits tersebut tanpa menyebut ustadznya. Biasanya bilang begini, “Ini haram, kan ada ayatnya. Kan ada haditsnya.” Siapa dia berani begitu? Berapa lama belajar ilmu tafsir? Berapa lama belajar ilmu hadits? Padahal, yang menentukan hukum itu bukan ulama tafsir atau ahli hadits, tapi ulama fiqih.

Propaganda Anti Ilmu

Ilmu yang sudah tersusun rapi dengan kurikulum yang baik oleh mereka dibilang banyak salahnya. Mereka mengajak kita, “Ayo kembali pada Quran dan Sunnah, tinggalkan perbedaan pendapat,” padahal yang ia maksud bukan kembali pada Quran dan Sunnah, tapi kembali pada ustadz yang mengaku murni berdasarkan Quran dan Sunnah yang dikagumi mereka. Intinya, mereka menganggap ustadz tersebut lebih baik dari ulama madzhab (salaf). Ini aneh. Mereka mengajak orang meninggalkan ilmu fiqih, tapi mengajak ikut ilmu dari ustadz baru. Kan sama?! kenapa dipermasalahkan?! Apa sebenarnya tujuan mereka ini? Hanya bikin kekacauan di masyarakat kah? Na’udzubillah.

Saudaraku, mari saling doakan. Kita umat islam sedang diuji. Kita kuat kalau bersatu. Perbedaan itu seharusnya menjadi motivasi bagi kita untuk duduk di majlis ilmu, bukan saling caci dan saling menyesatkan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *