Curhatan Seorang Ibu Saat Datang ke Pernikahan Anaknya

Curhatan Seorang Ibu Saat Datang ke Pernikahan Anaknya
Tidak sengaja berita ini terbuka di HP. Menurut saya, ini bukan sekedar soal hubungan ibu dan anak, tapi ini terkait dengan topik pendidikan dan agama. Seorang ibu yang dihalangi datang ke pernikahan anaknya, tentu tak terbayangkan sakitnya hati beliau. Kejam sekali si anak. Tetapi, entah apa sebabnya. Bukan itu yang hendak saya bahas. Saya ingin berbagi pelajaran yang bisa saya ambil dari berita ini.
Saya coba cari akun Facebooknya, berikut akun Facebooknya:
ADEGAN DALAM GAMBAR
Ada beberapa hal dalam gambar tersebut yang menarik perhatian saya, yakni pakaian sang ibu: busana muslimah, ekspresi pengantin wanita yang memalingkan wajahnya, pakaian pengantin wanita yang tidak menutup aurat seperti muslimah pada umumnya, pengantin pria yang mencium kening sang ibu.
Raut wajah sang ibu tampak sedih, mungkin kecewa. Sang anak menunjukkan rasa sayangnya pada sang ibu dengan tangan tetap memegang tangan pengantin wanita yang sepertinya ingin pergi meninggalkan mereka. Sepertinya ia berada diantara dua pilihan. Tidak ada manusia yang tidak pernah mendapat masalah. Kita doakan semoga Allah terus membimbing mereka, dan segera terselesaikan masalahnya.
HUBUNGAN IBU DAN ANAK
Di zaman sekarang ini hubungan ibu dan anak, menurut pandangan saya, ibarat kereta, agak menyimpang dari relnya, khususnya yang muslim ya. Dulu sikap hormat anak pada orang tua dan guru tinggi sekali. Sekarang sudah mulai pudar. Saya tidak hendak mengatakan si pengantin pria tidak hormat sama orang tua. Saya tidak bisa menilai itu.
Membayangkan, andai saya berada di posisi si pengantin pria tersebut, mungkin saya harus rela menangis karena harus memilih. Sebagai seorang muslim, tidak mungkin mengorbankan perasaan ibu. Terkadang AKAL terlalu sombong merasa kebahagiaan ada pada pilihan kita. Padahal, kurang romantis apa Anang dan Krisdayanti? Tetapi, kebahagiaan itu dari Sang Pemilik Hati dan seisi alam jagat ini.
Tetapi, sebagai orang tua, tidak patut juga terlalu mempertahankan ego. Terkadang, sejak kecil anak terlalu dituruti kemauannya, begitu hendak memilih pasangan, tidak boleh memilih, tentu ini kurang bijak. Kecuali, bagi anak yang sejak kecil memang dididik patuh tingkat tinggi pada orang tua, sudah dibiasakan sejak kecil untuk menuruti semua perintah orang tua. Istilah kerennya, sami’na waatho’na.
Sepertinya, sang anak dalam gambar di atas bukan anak yang terbiasa dengan sami’na waatho’na. Tetapi, sang ibu berbeda pilihan. Semoga Allah membantu mereka menyelesaikan masalahnya.
PENDIDIKAN
Sebagai seorang guru, saya melihat KESALAHAN BESAR dalam pendidikan di negeri ini, bahkan di sekolah islam pun ini terjadi. Tidak sedikit orang tua yang menganggap guru sebagai pembantunya dalam mendidik anak. Sehingga tak sedikit anak yang tidak mau hormat guru, katanya karena ia yang membayar guru. ARTINYA, menurut dia yang dihormat itu yang memberi uang, yang kaya. BAGAIMANA setelah ia dewasa dan sukses nanti lalu menanggung hidup orang tua, masihkah akan menghormat orang tua yang sudah tidak memberinya uang? na’udzubillah.
AGAMA
Akhirat itu lebih utama dibanding dunia. Hormat orang tua, terutama ibu, membahagiakan ibu itu keharusan. Berkata “Ah” saja padanya sudah termasuk dalam berbuat durhaka. Semoga kita semua diberi hidayah oleh Allah.
Saya pribadi kurang setuju masalah keluarga seperti ini dishare di Facebook.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *