Cinta Bersemi di Pesantren Tempat ku Ditugaskan

Cerita cinta santri

…lanjutan dari… Kisah cinta sang ustadz tugas

Tempat ini favorit bagi banyak orang, terutama pengurus pesantren putra. Sejuk tempatnya, tinggi dan bisa menikmati pemandangan hijau hingga kejauhan di sana. Jika nanti bangunan ini dilanjutkan, tentu akan lebih indah dengan ketinggian bertambah lima meter. Ada banyak burung-burung yang juga ikut meramaikan suasana.

Hanya ustadz dan pengurus yang boleh naik ke tempat ini. Pada waktu sore, sehabis sholat ashar, kami biasa berkumpul di sini.Dulu, jika menghadap ke utara, pas sekali menghadap ke asrama putri lantai tiga. Tetapi sejak setahun lalu, sudah diberi tabir penghalang oleh Gus Alif, putra bungsu kyai.

Saat sendiri, bagiku tempat ini bagai jendela surga yang menyatukan Rusia dan Indonesia. Lewat layar laptop bisa kunikmati pemandangan indah kota Kazan yang dikenal sebagai ibu kota ketiga Rusia, juga keindahan Qolsharif Mosque (Masjid Qolsharif) yang indah. Lewat akun skype di smartphone-nya dia memperlihatkan gedung berkubah itu. Aku penasaran, “Что это за здание?“ kutanya bangunan apa itu,

“Мечеть Кул Шариф,“ jelasnya.

Ternyata di kota Kazan ada masjid. Kukira tidak ada muslim di sana. Di dekat masjid itu ia sering chating denganku lewat akun skype. Walau berada di tempat ini, di negara Indonesia, seakan Rusia hanya di kota sebelah yang bisa ditempuh satu jam perjalanan saja. Selalu kuingat saat dia mengatakan “я буду ждать тебя,“ dengan mata berkaca. Kupandangi dua matanya. Ya, aku akan ke Rusia untuk bertemu menyatukan cinta. Kulihat cahaya cinta kuat menyala di matanya yang berwarna hijau.

***

“Assalamualaikum!”

Kami kaget, kami kira Gus Alif. Malu kalau beliau tahu perbincangan kami. “Waalaikumsalam.” Ternyata Ustadz Mahfud membawa sesuatu dibungkus kresek.

“Ada rejeki, ada rejeki,” katanya sambil meletakkan kresek yang dibawanya di tengah-tengah kami.

“Dapat dari mana, Ustadz?”

“Dikasih ustadzah …” beliau menolehku.

“Ustadzah Diah?” tebakku.

“Iya. Itu yang ngasih.”

“Wah, ini spesial buat Ustadz Mahfud,” kata Ustadz Arifin.

“Ah, sudah, ayo makan. Semoga besok ngasih lebih banyak.”

“Hahahahaha…” kami tertawa.

Sejak pesantren ini berdiri, entah sudah berapa banyak ustadz tugas yang menemukan tambatan hatinya di pesantren ini. Entah hasil usaha pencarian sendiri, dijodohkan rekan, atau dipilihkan kyai. Ada yang menikah dengan ustadzah, ada juga yang menikah dengan mantan murid. Bahkan ada ustadzah tugasan yang dapat mantan muridnya. Umur pesantren ini sudah 27 tahun. Sudah cukup tua. Banyak dari mereka yang menetap tinggal di dekat pesantren seperti Ustadz Zarkawi dan Ustadzah Fivi, Ustadz Lukman dan Ustadzah Aisyah, dan banyak lagi. Bahkan cinta segitiga kadang terjadi.

“Lamar aja, Ustadz.“ kata Ustadz Zarkawi. “Dia cantik, hafal Quran, bisa Bahasa Arab. Mantap, Ustadz.“

“Wah, sarjana, apa mau sama lulusan SD? Kesejahteraannya tidak terjamin. Tidak sekufu.“

“Sarjana banyak yang nganggur, Ustadz. Ni, sarjana S2 mesin,“ sambil menunjuk ke Ustadz Rahman. “Sekarang menjabat sebagai Kepala keamanan asrama.“ Kami terbahak mendengarnya. Ustadz Rahman diam saja. “Saya kira lulusan S2 jadi direktur. Kan mantap gajinya.“

“Kalau di pondok saya, pengurus pondok itu terhormat kedudukannya,“ kata ustadz Mahfud. “Harus menguasai beberapa ilmu agar bisa jadi pengurus. Ahlaknya juga harus bagus.“

***

Motivasi Belajar Santri

Sudah hampir empat bulan aku belajar Bahasa Rusia, belajar sendiri di YouTube dan beberapa website, juga grup-grup di Facebook. Aku ingin ke negeri yang dulu pernah menjadi negery besar dan kuat itu. Bahkan menurut survey, Bahasa Rusia merupakan bahasa nomor dua yang banyak di gunakan di dunia online. Karena itulah aku dekap terus laptop dan gadget-ku.

Handphone Ustadz Mahfud berdering, ada telepon. Kulihat tertulis nama Ustadzah Diah di layarnya. Sepertinya mereka sudah menjalin hubungan asmara. Ingin kuangkat mumpung tidak ada siapa-siapa. Tapi tidak jadi. Kubiarkan saja. Tetapi Ustadzah Diah tidak mau menyerah. Kupegang lengan beliau, kugoyang-goyang perlahan. “Ada telepon, Ustadz, yayang nelpon.” Beliau kaget memandangku. “Yayang nelpon, ni.” Kuberikan handphone-nya. Beliau angkat. Aku pasang headset di telinga, tapi tidak mendengar apa-apa agar bisa nguping, dan menghadap ke laptop lagi, pura-pura serius.

“Terima kasih kuenya kemarin,” kata Ustadz Mahfudz. “Siapa yang buat?” Aku tersenyum dalam hati. Ini bukan percakapan ustadz dan pegawai TU, tapi dua insan yang sedang dilanda cinta. “Besok, kalau tidak sibuk, bantu saya lagi ya.” Sepertinya mereka sudah sangat dekat. “Masih banyak yang belum paham caranya.“

Ada panggilan di akun Skype-ku. Ustadz Mahfud mendekatiku. “Apa itu, Ustadz?”

“Skype.”

“Apa fungsinya?”

“Untuk chat video, Ustadz. Jadi bisa kelihatan seperti kaca,” jelasku. “Ini teman saya, orang Rusia …”

“Wah, negara mana tu? Jauh sekali. Kenal dimana?”

“Negara besar yang dulu dikenal dengan nama Uni Soviet. Ustadz tahu kan? Saya kenal di grup Belajar Bahasa Rusia dan Inggris. Dia belajar Bahasa Inggris. Cantik banget orangnya, Ustadz,” beliau tersenyum.

Kuterima permintaannya untuk video call. Ustadz Mahfudz di sampingku.

“Как дела?” dia tanya kabarku.

“Хорошо,” kujawab kabarku baik.

Dia melihat ke Ustadz Mahfud dan tanya nama beliau, “Как его зовут?”

“Его зовут Махфуд.” Kukenalkan beliau padanya.

“Doakan saya bisa ke Rusia, Ustadz.”

“Mau melamarnya?”

“Semoga ada jalan.”

“Ini baru ustadz modern,” kata beliau.

Aku tertawa. “Kenapa, Ustadz?”

“Biasanya, ustadz itu bisa Bahasa Arab. Antum bisa Bahasa Inggris dan Rusia.”

“Bahasa Arab bisa juga, dikit-dikit, Ustadz.”

Handphone Ustadz Mahfud berbunyi lagi. Ada pemberitahuan di BBM-nya. Kebetulan diletakkan di samping laptopku. Sekilas terbaca nama pengirim dan sebaris isi pesannya: Ustadzah Diah: mau mangga?

“Kalau ada, minta dua, Ustadz,” usulku.

Beberapa ustadz mulai berdatangan. Kantor yang menjadi base camp ustadz dan pengurus pondok ini mulai ramai.

“Wah, Mahfudz BBM-an terus,” kata Ustadz Zuhdi, teman akrab Ustadz Mahfud, yang juga berasal dari pesantern yang sama.

Ustadz Mahfud hanya tersenyum sambil terus chating di BBM-nya.

…Lanjut ke… Ikhlas Di Atas Jalan Cinta

Cerpen Cerita Cinta Anak Pesanten

“Kerja apa, Mas?”
Faqih kaget mendengar respon wanita di depannya. Kata beberapa temannya dia nyleneh, yang namanya sntri itu ya semangat mencari barokah. Barokah atau keberkahan itu didapat dari guru dan orang tua. Hidup yang tidak berkah itu seperti orang sakit gigi, punya gigi tapi tidak bisa makan apa-apa. Begitu juga dengan cinta yang barokah, ialah hubungan cinta yang halal sakinah, mawaddah wa rahmah.
Faqih seakan merasa bosan dengan suasana pesntren, ia ingin merasakan kehidupan di luar yang bebas dan penuh warna. Mungkin karena terlalu lama di pesantern, atau karena tidak punya nama di kalangan santri sehingga ingin mencari popularitas di luar. Untuk urusan asmara ia tidak mau melirik santriwati. Saat liburan pesantren ia mengunjungi tempat-tempat keramaian: alun-alun, pantai, kawah, dll. Tetapi, ia tetap memilih wanita yang berkerudung rapi.
“Ngurus sawah saja, bantu orang tua,” jawab Fqih.
Wanita itu tersenyum, seprtinya senyumnya beda. Faqih mengerti maknanya. Ia merasa dirinya tak berkelas di mata wanita tersebut. Namanya juga lain dunia. Pertimbangannya pun juga dengan kaca mata di lain dunia. Faqih mendekatinya karena penampilan yang menawan dan mempesona, tidak seperti penampilan santriwati yang tak paham modern style.
Saat ia menolak tawaran Ustadz Ahmad, beliau pernah menyampaikan hadits:
Rasulullah SAW bersabda, “Jangan menikahi perempuan karena kecantikannya saja sebab bisa jadi kecantikan itu akan membuatnya celaka. Jangan pula menikahinya karena harta, sebab bisa jadi hartanya itu akan membuatnya angkuh. Namun, nikahilah perempuan karena kesalehan dan agamanya. Seorang budak perempuan yang buruk rupa dan miskin, tetapi baik agamanya, itu lebih baik.”
Faqih agak takut dengan pilihannya, tetapi sepertinya tekadnya mengalahkan pemahamannya. Pikirnya, ia tetap akan mencari yang berakhlak, tidak melulu cantik saja. Hanya saja, jujur ia mengutamakan kecantikan. Ia tidak mau jika hanya berakhlak tapi tidak cantik. Karena hal tersebutlah dirinya tidak mau dipilihkan jodoh oleh kyai, ustadz atau orang tuanya sendiri. Ia ingin pilihan sendiri.
“Sawahnya luas ya, Mas?”
Faqih merasa tidak nyaman membahas harta. Ilmu dan ahlaknya sepertinya tidak bermakna di mata wanita tersebut. Tetapi, pikir Faqih, asal dia mau berubah, itu kan bisa jadi lahan dakwah sumber pahala. Membimbinnya itu berpahala.
bersambung

Cerita Cinta Sedih Anak Pesanten

“Kemana Subhan?”
“Biasanya di belakang perpustakaan, Bang.”
“Ngapain?”
“Mungkin murojaah hafalan.”
Ustadz Fathoni tidak yakin Subhan murojaah di belakang perpustakaan. Beliau mencoba melihatnya di sana. Benar dugaan beliau, di alagi melamun sendiri. “Astaghfirullah…!!” Subhan kaget. “Ngapain kamu di sini?!” Ekspresi Ustadz Fathoni agak marah. Beliau duduk di samping Subhan. “Kamu masih mikirin Fahma?!” Subhan diam tidak menjawab. Sepertinya dia sedih sekali. “Perempuan itu banyak, Han! Di pesntren ini saja ada lima belas ribu lebih santri wati. Ngapain kamu menangisi yang satu?”
“Belum aku temukan yang sebaik dia, Bang.”
“Mau saya tunjukkan yang lebihh baik dari dia?!” Suara Ustadz Fathoni meninggi. “Dari mana kamu tahu kalau dia baik?! Kamu sering ketemuan sama dia?!”
“Dulu waktu liburan aku tidak sengaja bertemu dia di mini market. Aku suka cara dia bicara, sikapnya.”
“Itu saja yang kamu tahu?!” Subhan tidak diam menjawab. “Baru melihat sekali saja kamu sudah yakin tidak ada yang lebih baik. Allah menciptakan begitu banyak perempuan baik. Bisa-bisanya kamu menangisi yang satu.”
“Aku pernah bilang ke dia kalau ingin menikahinya nanti kalau sudah selesai hafalan tiga puluh juz.”
“Astaghfirullah. Luruskan niatmu menghafal Quran.”
“Aku niat karena Allah, Bang. Hanya saja, aku menunggu selesai untuk melamarnya.”
Ustadz Fathoni menghela nafas dalam. “Semua yang sudah terjadi itu takdir, Han. Berati dia memang bukan jodohmu.”
bersambung

2 Comments

  1. Unknown

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *