Cerita Kupu-kupu pada Ulat di Dahan

Cerita Kupu-kupu pada Ulat di Dahan

“Dari mana kamu, Kupu-kupu?”

“Aku baru saja terbang keliling di seantero desa. Pemandangannya indah sekali. Aku melihat bermacam bunga warna-warni nan indah.”

Ulat menelan ludah. Ingin sekali ia menikmatinya, tapi sayangnya belum bisa terbang. Masih butuh waktu cukup lama untuk bisa punya sayap, masih perlu bertapa menjadi kepompong. Hari-harinya hanya jalan-jalan di atas satu pohon, mondar-mandir dari satu dahan ke dahan lainnya. Bahkan dalam seminggu, kadang hanya di satu dahan. Wawasannya sempit sekali. Mau jalan-jalan jauh, terlalu melelahkan kalau harus jalan kaki.

“Aku punya cerita menarik.”

“Apa?”

“Tadi aku main ke kebun jagung. Aku terbang ke bagian tengah.” Ulat menyimak dengan seksama. “Eh, aku melihat ada daun jagung bergerak-gerak. Aku kaget dan terbang agak tinggi sambil mengamati apa yang membuatnya bergerak…”

baca juga: suami islami yang tak membahagiakan

“Terus?”

“ternyata, ada dua manusia di bawah, berguling-guling di tanah.”

“Hah… Ngapain mereka?”

“Ah, nanti, kalau kamu sudah dewasa, pasti tahu.”

“Ah, apaan sih…”

“Aku juga main ke taman. Di sana aku hinggap pada bunga warna hijau. Di dekat bunga itu ada kursi. Di kursi itu ada dua manusia: laki-laki dan perempuan.”

“Ngapain mereka?”

“Aku mendengar percakapan mereka.”

“Bicara apa?”

“Mereka berdua itu sudah sama-sama menikah, yang perempuan punya suami, yang laki-laki sudah punya istri. Keduanya sudah sama-sama punya anak. Mereka duduknya dempet-dempetan, lengket banget. Bikin aku iri.”

“Terus?”

“Nah, mereka berencana kabur ke luar pulau dan menikmati kebersamaan berdua di sana.”

“Terus, bagaimana anak dan istrinya, juga suami yang perempuan?”

“Mereka sudah tidak peduli itu. Mereka ingin bersenang-senang berdua.”

“Wah, keterlaluan.”

“Kamu tahu, nggak?”

“Nggak…!! kan belum dikasih tahu…!!”

“Hahaha… Aku ketemu cewek cantik tadi.”

“Aduh… kok topik dewasa terus…? Aku kan belum cukup umur.”

“Hahahahaaa… iya ya. Sorry, sorry.”

“Ketemu dimana?”

“Di taman bunga anggrek. Taman itu indah sekali. Buna-bunga bertebaran, wangi aromanya. Suasananya romantis sekali. Aku terbang tidak segera hinggap. Cewek itu bertengger di atas bunga anggrek yang indah. Sesekali kutankap tatapan matanya yang indah. Seakan-akan ia menantiku hinggap di sisinya.”

bersambung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *