Bersyukur Mendapat Istri Mantan Pelacur

Cerita istri mantan pelacur

“Rudi sini…!!”

Ibunya Rudi memanggil Rudi ke rumah Bu Leknya yang berada di samping rumah beliau. Rudi yang sedang berada di teras rumahnya sendiri segera menghampiri beliau.

“Sini masuk…!!”

Rudi masuk dan duduk. Ibunya memang begitu, kadang masalah kecil terkesan jadi besar oleh ekspresinya.

“Katanya istri kamu itu mantan pelacur?!”

Rudi kaget. Kata kyai, berzina satu kali itu menghapus pahala kebaikan selama 75 tahun. Besar sekali dosanya. Cara taubat pelaku zina itu dengan dicambuk atau dirajam. Ada rasa kecewa dalam hati Rudi. Jika itu benar, seperti apa nanti anaknya? Padahal, ia mendambakan anak sholeh sholehah yang bisa jadi ulama. Ia sudah memilih istrinya sesuai tuntunan agama. Sudah istikhoroh, sudah menyampaikan sama istrinya dulu kalau dirinya ingin jadi ahli ibadah dan ahli ilmu bersama keluarga. Istrinya bersedia.

“Kamu kok tidak tanya-tanya dulu waktu melamar dia?!”

Bagi Rudi, jika itu memang benar, yang sudah terjadi itu takdir. Hidup ini tiga masa, menurutnya: masa lalu, saat ini dan masa akan datang. Di masa lalu tampak banyak dosa dan kesalahan, beristighfar atasnya. Saat ini, itulah milik kita. Kita harus berikhtiar dan berdoa serta banyak bersholawat. Adapun masa yang akan datang, itu milik Allah. Istrinya sudah resmi menjadi miliknya, itulah yang terbaik dari Allah.

“Zina itu harus disaksikan empat orang, Bu,” Rudi mencoba menjawab.

“Orang sekampung sudah pada tahu, Rudi…!! Keluarga kita jadi omongan orang.”

Rudi diam. Tidak baik melawan orang tua. Apalagi orang tua yang lagi tersulut amarah. Ia dengarkan saja omelan ibunya. Rudi tidak gegabah langsung percaya. Ia mencoba berkunjung ke warung-warung di daerah asal istrinya. Barangkali dia mendengar omongan orang tentang istrinya.

“Rahma sudah diboyong suaminya ya?” tanya seorang pria di samping Rudi pada pemilik warung.

“Iya.”

“Tidak ada penggantinya ya… Sampeyan tidak mau jadi penggantinya, Mak? Hahahahaaa…”

“Ngawur, udah gendut, keriput begini… Masih mau?!”

“Hahahahaaa…”

“Kamu langganan dia dulu?!”

“Sekali-kali, biar tahu rasanya perempuan cantik, muda.”

Di beberapa warung Rudi bertemu beberapa mantan pelanggan istrinya. Mereka membicarakan istrinya. Zina harus disaksikan empat orang. Tetapi, ini cukup jelas. Rudi juga merasakan perubahan sikap istrinya. Mungkin ia merasa tidak nyaman dengan omongan tetangga. Mereka sering membicarakan dirinya, bisik-bisik, tapi nyaring.

Baca juga: Cerpen Cinta Mahasiswa Penyelamat Janda

“Ceraikan saja aku, Mas…,” katanya sebelum tidur.

Rudi melihat air matanya menetes. Ia paham, istrinya merasa tertekan. Ia sudah menjadi omongan orang sekampung. Rudi tidak menanyakan pada istrinya apakah itu benar atau hanya isu saja. Tetapi, sepertinya istrinya tidak bisa menyembunyikan kisah gelap masa lalunya. Jika memang itu tidak benar, tentu ia sudah membantahnya. Rudi pernah mendengar kisah pelacur yang minta dinikahi pemuda ahli ibadah agar bisa bertaubat. Artinya, dosa zina itu masih bisa diampuni, begitu pikirnya.

Sebagian tetangga dan saudaranya juga tidak mempermasalahkan masa lalu istri Rudi. Menurut mereka, masa ya sudahlah, yang penting baik akhirnya. Semua yang sudah terjadi, itu sudah ketentuan dari Allah. Disyukuri saja. Begitu kata mereka. Tetapi, ibunya Rudi berubah sikapnya.

“Jika kamu merasa tersiksa di sini…” hampiri setiap hari ibunya memaksa Rudi menceraikannya. “Kita pindah saja.”

“Kamu ikut pindah?!” kata ibunya saat Rudi pamit pindah.

Pertanyaan itu sangat dipahami oleh Rahma, maksudnya Rudi harus menceraikan dirinya. Rudi bisa merasakan perasaan istrinya. Dia diam. “Tidak,” jawabnya kemudian. “Aku antar Rahma pulang.” Rudi mengantarnya.

“Mau kemana, Mas?”

Rudi tidak mengantar Rahma ke rumahnya. Ia menghentikan laju mobilnya. “Kamu istriku, wanita terbaik yang dipilihkan Allah. Aku akan terus membimbingmu. Aku belikan rumah, kamu tinggal saja di situ. Aku akan mengunjungimu setiap hari.”

“Tidak usah, Mas….,” ia menangis. “Ceraikan saja aku.”

“Tidak. Kamu sudah melangkah di jalan kebaikan. Membimbingmu itu berpahala. Siang malam aku membimbingmu.” Rudi merangkulnya. “Izinkan aku untuk terus menuai pahala dengan membimbingmu.”

Keduanya melanjutkan perjalanan. Rudi mencari kontrakan di tengah kota. Untuk sementara, tidak apa-apa dikontrakan. Rahma pun mau. Sebagai pebisnis online, Rudi bisa mengunjungi istrinya setiap hari. Dengan begitu, ibunya tidak akan kecewa karena mengira Rudi sudah menceraikan istrinya, sedangkan istri Rudi tetap mendapatkan haknya.

“Kenapa mas tidak menikah lagi saja,” kata Rahma usai setoran hafalan juz 30 sama suaminya. “Banyak wanita perawan yang mau.”

Rudi memandang istrinya. “Sudah. Tidak usah mikir itu.”

“Katanya itu sunnah kan…”

Rudi tersenyum. “Umar bin Abdul Aziz saja menolak tawaran istrinya untuk menikahi perempuan yang pernah dicintainya dulu.” Rahma memandang Rudi. “Orang sekelas beliau tidak mau menuruti cinta dunia. Apalagi saya.”

Rahma tersenyum. Sudah banyak ilmu agama yang ia dapatkan dari sang suami. Bahkan ia sudah hampir hafal juz 30. Setiap hari diajak nonton pengajian ustadz Adi Hidayat, Ustadz Abdul Somad, Buya Yahya dan dai-dai lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *