Cerpen: Dapat Perawan, Bangga…!

CERPEN ASMARA Kisah pemuda yang sedang mencari cinta sejatinya. CERPEN ASMARA. “Sebentar lagi, kamu kan lulus,” kata Emak Parmi pada Eko yang sedang makan di dapur. “Kenapa nggak sekalian cari bini?” sambil mencuci piring di sumur ia menasehati Eko, putra sulungnya. “Menikah itu sunnah Rasul, pahala ibadahmu jadi berlipat.” Eko tidak terlalu menghiraukan. Baginya, itu…

Cerpen: Penguasa Negeri Ini Bukan Presiden

CERPEN SOSIAL, cerpen bertema sosial. CERPEN SOSIAL. “Presiden negeri ini udah tumpul taringnya, Mon.” “Ah, lho…!! kita anak SMP tahu apa soal politik.” “Aku ini sering nguping bokap diskusi politik sama kakek di rumah.” “Wuih, keren….!! Mertua sama menantu jadi pengamat politik.” “Ah, itu nggak penting.” Mereka berdua tidak sadar di kelas sudah ada Pak…

Cerpen: Sarjana Menganggur, Santri Tak Jadi Kyai

Cerpen Pendidikan, kisah dengan tema pendidikan. CERPEN PENDIDIKAN. “Katanya Si Firman sudah sarjana, kok kerjanya cuma melamun gitu? Kok tidak seperti Arif dan saudara-saudaranya: kerja enak, gaji besar” “Itu bukan urusan kita. Anak kita juga tidak kerja.” “Anak kita kan mondok, tidak sekolah. Memang bukan untuk cari kerja” Segelas teh sudah tersaji. Nasinya belum matang….

Cerpen: Arjunaku Tak Lahir Kembali

CERPEN KELUARGA cerita tentang kehidupan dalam keluarga. CERPEN KELUARGA. “Kamu jual sawah lagi?” Suaranya sangat pelan, tak lantang seperti dulu lagi. Bibirnya sudah hampir tak sempurna bergerak. Badannya gemetar. Matanya lebih sering menutup. Jalan hidup begitu panjang sudah dilalui. Sangat lelah sudah. Kamar ini, ruangan berukuran 6 x 7 meter, dinding berwarna putih dengan gambar-gambar…

Cerpen: Ardian Si Anak Tunggal

CERPEN ANAK SEKOLAH cerita tentang anak tunggal. “Selamat pagi,” suaranya lantang dan tegas. Semua guru yang sedang di ruangan itu terkejut. “Bisa bertemu kepala sekolah sekarang?” agak memaksa. CERPEN ANAK SEKOLAH. Salah seorang guru menghampiri, “Monggo, silahkan masuk,” katanya. “Ayo saya antar ke ruang kepala sekolah.” Ia dipersilahkan masuk. “Ada perlu apa ya memanggil saya?”…

Cerpen: Sang Dukun Bijak Tak Shalat

CERPEN MISTERI, cerpen tentang cerita misteri. CERPEN MISTERI. Pak Kyai mengajariku shalat, katanya shalat itu wajib bagi semua muslim. Jika tidak sholat, maka akan masuk neraka. Waktu aku bermain di halam bersama teman-teman, banyak yang mengingatkan kalau sudah tiba waktunya shalat. Kami yang membandel akan kena marah oleh banyak orang. Kami pun ikut shalat berjamaah…

Cerpen Perjodohan: Ikhlas Di Atas Jalan Cinta

…lanjutan dari… Cerpen Cinta Bersemi di Pesantren Tempatku Ditugaskan. Dalam Cerpen Perjodohan ini diuangkap juga hukum perjodohan paksa.  “Begini ya lingkungan kampus, kayak nggak ada yang tua; muda semua,” kata Ustadz Mahfud saat jalan-jalan ke daerah kampus. CERPEN PERJODOHAN. “Banyak bidadari, Ustadz.” “Bebas paling ya mau ngapain aja?” “Yang tidak beriman begitu, Ustadz.” “Masak ada yang alim?…

Cerpen: Bilang Aja Kakek Meninggal

CERPEN PESANTREN berkisah tentang sepenggal cerita tentang kehidupan di pesntren. CERPEN PESANTREN. “Pembohong, pembohong, pembohong…!!” Terdengar suara anak-anak teriak-teriak “bohong” di halaman. Terlihat di teras musholla, tidak jauh dari lokasi anak-anak bermain, sedang asyik ngerumpi ibu-ibu sambil makan Jug-gerjuk, makanan tradisional mirip rujak, tapi tanpa lontong. Seorang anak berlari mendekati mereka dan menangis. “Saya dibilang pembohong,”…

Cerpen: Restu Tuhan, Suami Sah tapi ILegal

Lanjutan dari Cerpen Tuhanku Bukan Orang Tuaku. Cerpen ini merupakan cerpen perjodohan islami. “Sok pinter…!!” Bapak menamparku. “Anak perempuan seperti kamu tahu apa?!” CERPEN PERJODOHAN ISLAMI. Sejenak kumenangkap pandangan mata ibu. Berkaca. Tapi segera berpaling. Aku lari ke kamar. Ibu mengejarku. Kurebahkan diri di kasur. Menangis. Ibu duduk di sampingku sambil membelai-belai rambutku. Aku menangis sejadi-jadinya….

Cerpen: Tuhanku Bukan Orang Tuaku

CERPEN PERJODOHAN PAKSA kisah tentang perjodohan dan hukumnya. CERPEN PERJODOHAN PAKSA. “Semua yang bapakmu lakukan … untuk kebahagiaanmu…!!” Bapak marah. Wajahnya merah. Kasar sekali. Ibu menangis, tersedu di kamar. Aku diam mendengarkan. Ibu tidak tega melihatku dimarahi. begitulah ibu. Padahal aku tidak menangis. Aku marah, tapi tak bersuara, membisu. Aku yakin walau tanpa bukti, ini…

Show Buttons
Hide Buttons