CERPEN: Cinta Gadis Wahabi

Cerpen Cinta anak kuliah
CERPEN CINTA. Alif langsung saja masuk ke rumah Sandi. Pintu depan memang tidak ditutup. Keduanya memang sudah biasa saling kunjung. Mereka sudah bersahabat sejak kecil. Sudah seperti saudara. Alif menyodorkan selembar kertas undangan. Dia ambil saja, lalu diletakkan di meja. Datar saja ekspresinya. “Kenapa?” tanya Alif. “Kok tampak lesu gitu?”

“Nasib,” katanya sambil memandangi layar ponselnya. Duduknya tidak tegap.

Alif duduk di sampingnya. “Kenapaaaa? Semangat, Bro..!!” Alif memberi semangat sambil menepuk bahu Sandi. Ia lihat layar ponsel Sandi. Sebuah applikasi ebook yang sedang ia buka. “Ditolak orang tua Fina?”

“Mana mungkin orang tua Fina menolak lelaki sebaik aku.”

“Cieee… Terus?”

“Ayahku tidak setuju karena dia wanita wahabi.”

Alif tertawa. Terus mendadak berhenti. “Ayahmu dimana?” bisiknya. Takut beliau dengar.

“Ayah lagi di rumah Bu De sama Ibu.”

“Fitnah wahabi memang lagi marak sekarang. Harus kamu jelaskan pada beliau, San.”

“Mana mungkin penjelasanku didengar.”

“Ini yang membuat umat islam lemah; tidak bersatu. Berbeda pendapat itu kan wajar.”

“Dulu sih tidak ada seperti ini. Buktinya, Pak Lek saya nikah sama wanita seperti Fina. Tidak ada orang menyebut dia wahabi.”

“Iya, dulu tidak ada muslim Indonesia yang men-judge muslim lainnya yang tidak sepaham dengan sebutan wahabi.”

“Salah mereka juga sih, dulu suka men-judge muslim di kampung sebagai ahli bid’ah. Ahli bid’ah itu kan ahli neraka.” Alif tersenyum. “Seperti balas dendam ceritanya.”

***

CERPEN CINTA. Sudah seminggu Fina menanyakan kepastian Sandi untuk melamarnya. Tetapi tak ada jawaban. Padahal ia sudah terlanjur cerita pada kedua orang tuanya. Sandi bingung. Seperti kumbang yang menatap mawar tapi tak beranjak. Baru saja angin bertiup kencang. Sayapnya tak sekuat elang di awan. Tetapi, pasrah pada takdir itu bukan keputusan bijaksana, menurutnya. Tak lemah tekadnya, namun tak gegabah sikapnya. Terkadang ada rasa kesal di benak Fina, ia ingat kata Ustadz Abdul Somad Lc. MA dalam ceramah-ceramahnya di YouTube, “Kumbang tak seekor, mawar tak setangkai, patah tumbuh, hilang berganti, hilang satu tumbuh seribu.” Tetapi, tak semua kumbang yang hadir itu baik. Fina sudah sangat mengenal Sandi. Tetapi, cukup kesal ia dengan sikap Sandi yang tidak memberi penjelasan alasan penundaannya. Kumbang bukan menanti seperti mawar di taman berpagar.

Inbox Whatsapp Fina hanya dibacanya, tapi tidak ia balas. Sangat sulit bagi Sandi. Tidak baik menentang orang tua. Tetapi, Sandi juga tidak sepakat dengan sikap orang tuanya. Menurut dia, tidak patut sesama muslim saling menyalahkan. Memang tidak semua benar. Menurut dia, label wahabi dan ahli bid’ah merupakan perusak persatuan umat islam. Seharusnya, menurut dia, kelompok yang dulu diberi label ahli bid’ah semestinya tidak menyerang balik dengan label wahabi. Inti masalahnya, menurut Sandi, adalah kwalitas keilmiahan sumber ilmunya. Ingin rasanya ia mengajak ayahnya bermusyawarah, tetapi tidak berdua dengannya. Seandainya masih ada, ia ingin mengajak Kyai Fadli, tetapi beliau sudah tiada. Beliau adalah Kyainya ayah Sandi waktu masih nyantri di Pesantren Nurul Huda di daerah tepi barat Bondowoso.

Sandi ingat waktu diajak suwan ke kediaman beliau dulu ketika masih SMP. Sempat ada tamu yang berdebat di hadapan beliau waktu itu. Sandi tidak begitu paham waktu itu, tetapi ia masih ingat yang diperdebatkan. Betapa arifnya cara almarhum Kyai Fadli menanggapi perdebatan tamunya tersebut. Tidak perlu marah-marah, sambil mempersilahkan tamunya menikmati makanan khas Bondowoso: Tape, beliau menjelaskan, “Rasulullah itu mengerjakan ibadah tidak selalu sama caranya. Contohnya ketika jadi imam, pernah Beliau membaca Basmalah dikeraskan, pernah juga dipelankan, pernah juga tidak membaca, pernah juga hanya rakaat pertamnya dikeraskan. Sholat tarawih juga begitu. Nah, murid beliau itu kan sahabat, para sahabat Nabi mengerjakan ibadah sesuai yang mereka lihat sendiri, bukan sesuai yang diceritakan sahabat lain. Tentu saja sahabat yang satu dengan yang lainnya tidak semuanya sama cara ibadahnya.” Tamu beliau mendengarkan dengan seksama. Sepertinya ini materi serius. Mereka berhenti mengunyah tape, perhatiannya fokus pada penjelasan Kyai Fadli. “karena ketika Rasulullah menjadi imam sholat dan tidak membaca basmalah di awal al fatihah, tidak semua sahabat menjadi makmum. Begitu juga ketika Rasulullah menjadi imam sholat dan membaca basmalah dengan nyaring, sahabat yang tadi bermakmum, belum tentu ikut bermakmum juga. Nah, inilah penyebab perbedaan itu. Tetapi, apa pantas kita permasalahkan?” Para tamu mulai paham, sebagian tersenyum. Wajar, tidak semua dari mereka alumni pesantren, sehingga tak tahu banyak tentang sejarah. “Kemudian, para sahabat itu juga mengajarkan pada murid-muridnya cara ibadah Rasulullah yang dilihatnya sendiri, bukan yang diceritakan sahabat lain. Murid sahabat itu disebut Tabiin, murid tabiin disebut tabiit tabiin. Dari sekian banyak murid sahabat tersebut, yang dianggap paling unggul keilmuannya di zamann itu adalah Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafii, dan Imam Hanbali. Sehingga ilmu-ilmu mereka tercatat dan abadi hingga sekarang. Karena ada empat, sehingga tidak semuanya sama. Jika ilmunya sudah jelas dari mereka, buat apa diperdebatkan? Maka dari itu, jika ada orang yang tidak mendapat ilmu dari mereka, lalu menyalahkan ulamak pengikut mereka, dari mana mereka mendapatkan ilmu? Memangnya ilmu umum, bisa meneliti sendiri dan jadi penemu ilmu? Ilmu agama tidak begitu, harus jelas silsilah atau sanad ilmunya, dari siapa dia dapatkan ilmu tersebut.”

CERPEN CINTA. Masih Sandi pegang ponselnya. Dilihatnya pesan inbox Fina yang belum ia balas. Seakan badai tak henti bergejolak. Alam hati tak bersahabat. Belum lagi tugas dari dosen yang belum selesai digarap, masih tergeletak di meja. Ditambah inbox pelanggan bisnisnya yang komplain karena merasa tidak cocok dengan produk yang didapatkannya dari Sandi.

Sore yang cerah. Pikiran Sandi buntu, seakan jiwanya juga meredup akan tenggelam bersama matahari senja di ufuk barat. Ia bangkit dari duduknya dan keluar dengan motornya. Melewati jalanan bertepi sawah-sawah menghijau, sejuk jiwanya memandang bak permadani hijau. Ia mengalihkan kerumitan di benaknya pada hobi barunya: Landscape Fotography. Dengan berbagai Angle, dengan Aparture dan Sutterspeed yang berbeda-beda ia memotret pemandangan sawah, gunung dan tanaman. Sesekali ia ambil foto hewan-hewan kecil dengan mode macro. Ia duduk di tepi sawah, memandang bunga berwarna kuning; hanya setangkai.

***

“Ilmu agama itu tidak sama dengan science. Saya bukan hendak menjelekkan kelompok anda. Ini dialog ilmiah, kita bicara dengan ilmu, dengan cara yang arif dan santun. Berbeda itu wajar karena kita dicipta memang berbeda-beda.”

Amarah mereda. Semua diam menyimak.

“Science itu mengkaji hukum sebab akibat pada alam. Kemunculannya karena kerja manusia. Seorang ilmuan melakukan penelitian, lalu muncul ilmu biologi, ilmu fisika, ilmu bahasa, dan semacamnya. Sedangkan ilmu Agama: Quran dan Hadits itu diturunkan oleh Allah Sang Pencipta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, lalu diturunkan kepada sahabat, terus kepada Tabiin, kemudian diturunkan atau diajarkan pada tabiit tabiin. Jadi, tidak ada yang namanya penemu ayat atau hadits di jaman sekarang. Nah, karena ilmu agama itu diturunkan, maka menjadi sangat pentinglah sanad.”

CERPEN CINTA. Sebagian peserta diskusi mengangguk-angguk. Ada yang menghela nafas panjang. Ada yang tatapan matanya tajam pada pembicara, tak sabar menunggu kelanjutan penjelasannya.

“Jadi, jika ada orang mengaku berilmu dan mengkritik ulamak, sedangkan ilmu dia tak jelas dari mana sumbernya, tak jelas sanadnya, bukan berarti dia seorang penemu ilmu agama, tetapi… dia sedang tersesat dan perlu dipahamkan, perlu diluruskan.”

Sebagian peserta diskusi tertawa.

“Dalamm urusan Fiqih atau hukum islam, sumber ilmu yang tercatat hingga sekarang itu adalah yang diajarkan oleh Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafii, dan Imam Hanbali. Mereka mendapatkan ilu itu dari sahabat, sahabat dari Rasulullah. Sedangkan dalam akidah, sumber ilmu yang diabadikan hingga sekarang adalah dari Imam Abu hasan Al Asy’ari dan Imam Abu Manshur Al maturidi. Dalam urusan Tasawuf yang diikuti adalah Imam Al Ghozali, Imam Junaid Al baghdadi, serta imam-imam lainnya seperti Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani. Jadi, jika ada yang bertentangan dengan mereka, perlu dipertanyakan.”

Moderator menunjuk salah seorang audien yang mengacungkan tangan di pojok kiri belakang.

“Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan. Menarik sekali dialog ini. Satu hal yang ingin saya tekankan di sini, yakni persatuan. Kita sebagai umat islam harus bersatu. Menanggapi isu wahabi, menurut saya, isu wahabi dan isu ahli bid’ah pada zaman dulu, sekarang masih ada sebenarnya isu ahli bid’ah ini, kedua isu ini menjadi penyakit yang merusak persatuan umat islam. Memang, keduanya harus disampaikan, umat islam harus paham tentang wahabisme dan bid’ah, tetapi cara penyampaiannya yang perlu diluruskan. Pengajaran ilmu itu seharusnya membawa manfaat, bukan menimbulkan mudhorat seperti perpecahan dan saling caci antar kelompok.” Banyak audien yang berusaha membalikkan badannya menoleh ke belakang. Sepertinya ini hal baru dalam forum ini. “Kita yang dikaruniai ilmu ini seharusnya menjaga sikap ilmiah kita, berhati-hati dalam bertutur, tak sembarangan bersikap. Menurut saya, menyerang balik serangan seorang muslim yang menyerang kita di depan umum, itu sama dengan bunuh diri. Semestinya, duduklah dan laksanakan dialog ilmiah. Tak perlu saling menyesatkan. Jadi, yang diadu itu kekuatan keilmiahan ilmunya, bukan otot tangan atau otot leher.” Sebagian audien tertawa. Sang bintang tamu pun tersenyum.

Sandi diam saja di kursi baris kedua dari belakang. Menurutnya, perdebatan itu wajar asal tetap dalam bingkai ilmiah dalam forum ilmiah, bukan di depan umum.

CERPEN CINTA ini bersambung…

Referensi:
Website: Tinta Guru http://www.tintaguru.com/2017/05/madzhab-akidah-fiqih-dan-tasawuf-nu.html
Ceramah-ceramah Ust Abdul Somad (Channel: https://www.youtube.com/channel/UCU6zdYxTn7g4RwqBePmstvg/videos)
Ceramah-ceramah Ust Adi Hidayat (Salah satu videonya: https://www.youtube.com/watch?v=LlGub3isfiY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Show Buttons
Hide Buttons