Cerpen: YANG BIASA (1)

cerpen, cerpen dewasa, cerpen romantis, contoh cerpen, cerpen singkat, cerpen cinta

Cerpen. Takdirkah ini? Unik. Tidak semua yang dilihat dapat dirasakan, begitu katamu. Karena kau bukan yang luar biasa?

Masih kuingat serangkai kata tentang kaummu, Wahai kau mahluk indah, oleh seorang penyair kenamaan. Tak perlu kau tanya namanya. Katanya, “Wanita tidak dicipta dari tulang ubun karena bahaya membuatnya terlena dalam sanjung dan puja, tidak pula dari tulang kaki karena nista menjadikannya dihina dan diinjak-injak, tetapi ia dicipta dari rusuk kiri, dekat hati untuk dicintai dekat tangan untuk dilindungi.”

Aku sepakat.

Banyak sekali yang memperbincangkan tentang kaummu, terlalu indah untuk tidak dibawa dalam setiap perbincangan, apalagi hadirnya. Kau yang kukagumi, sudah cukup lama waktu membisu, namun padanya kisah menarasi indah. Kau yang menarasikan.

“Jangan kau perhatikan yang tidak abadi,” begitu katamu. Apa maksudnya? “meski kau lihat sangat indah, dan hatimu sangat ingin menikmati, buat apa kesenangan yang tidak abadi?” Sulit kupahami. Tidak nyambung. “Mata air memang hanya setetes-setetes saja, tapi ia tidak kering saat kemarau. Dan gunung yang indah akan musnah bila keindahannya kau nikmati. Namun kan semakin indah taman di halaman yang tak henti kau rawat.”

Terserah kamu. Tiba-tiba saja kau lontarkan kata-kata itu.

“Banyak orang menggambarkan pemandangan-pemandangan indah,” kau melanjutkan. “penuh ekspresi, tapi bukan objek itu yang ia kagumi, sebenarnya. Keindahan itu hanya jadi latar, hinggap di dahan-dahan hijau dan setiap lambai daun-daun.”

Kau bukan menjelaskan. Aku tahu gunung dan pohon, tapi mendengar kau menyebutnya, seperti aku adalah anak kecil yang belum tahu nama-nama benda. Tidak kumengerti. Apa maksudmu?

Terserah kamu.

Kau yang kukagumi, masih ingat dulu, sewaktu baru kukenal kamu di kampus kita, waktu baru saja kau dan aku menginjakkan kaki di dunia mahasiswa, baru saja melepas seragam abu-abu. Kenangan. Waktu itu kau dan aku masih sangat muda. Kau juga masih ingat, kan? Aku yakin itu, tergambar dari senyummu.

Waktu itu semua rekan-rekan kita sedang asyik-asyiknya mencari kenalan baru, mencari pasangan baru. Mata mereka berburu wajah cantik, wajah tampan, kantong tebal, dan macam-macam. Kau datang mendekatiku, mengenalkan temanmu. Dia cukup cantik, lebih dari itu, sangat. Aku tergoda.

Kau?

Seperti awan ditebar angin, seluruh alam terselimuti, dibuatnya kenal semua. Namaku dikenal seluruh kampus, sesaat setelah aku tampil bersama teman-teman grup band-ku. Ya, itu sudah biasa. Setiap aku dan teman-temanku usai tampil di sebuah pertunjukan, banyak gadis-gadis yang ingin mengenal kami. Aku dan teman-teman selalu bermurah hati. Mereka cantik-cantik, gaul-gaul juga, keren.

Mereka merasa bangga bila sempat bertutur sapa dengan kami, apalagi diberi tanda tangan. Seakan aku dan teman-teman adalah segolongan pangeran dari kahyangan, di negeri dongeng. Dikisahkan pada jaman dulu dengan kata-kata yang sangat indah, menenggelamkan hayalan.

Kita duduk bertiga di bawah pohon waru di dekat halaman parkir kampus, fakultas sastra. Awalnya kau hendak pergi, kau malu? tapi aku memintamu untuk ikut berbincang. Temanmu malu-malu menanyakan banyak hal tentang lagu-lagu grup band-ku. Seperti wartawan infotainment saja dia.

Kau diam saja.

Perbincangan itu berlangsung agak lama. Temanmu yang banyak bertanya tentang aku, tentang lagu-laguku, semua tentang aku dan grup band-ku. Aku tidak terlalu aktif, hanya menjawab iya atau tidak, sesekali juga menjelaskan saat temanmu butuh penjelasan. Sementara kau hanya sesekali tersenyum.

Aku masih ingat, aku malah bertanya padamu, tentang asal daerahmu. Temanmu seperti terkejut, mungkin terlalu istimewa gadis sepertimu ditanya asal daerahnya oleh anak band seperti aku. Tapi kau biasa saja. Aku juga merasa biasa, tidak terlalu berbangga diri di depanmu, seakan aku bukan anak band yang selalu dipuji-puji kaum hawa.

Kau.

Aku tahu perempuan sepertimu, memang begitu, kau anggap semua orang sama, termasuk aku. Tak ada istimewa-istimewanya. Sebenarnya aku hendak bercerita banyak padamu waktu itu, tentang masa lalu, semua tentang aku. Aku yakin kau akan mendengar dengan senang hati. Tapi kau keburu pergi. Katanya ada kuliah. Bukankah kita satu kelas? Temanmu itu, aku lupa siapa namanya, juga ikut pergi meninggalkanku. Kubiarkan saja.

Saat kita bertemu, kau selalu menyapa, meski hanya sebuah suara “Hei,” lalu kau berlalu bersama bekas senyummu. Seperti orang sibuk saja kau. Tapi aku yakin, aku lebih sibuk darimu. Tawaran manggung semakin banyak, bahkan kuliah sering kutinggalkan, hampir tidak keurus lagi. Untunglah banyak penggemarku yang peduli, membantu aku mengerjakan tugas-tugas kuliah.

Kau sibuk?

Waktu SMA aku juga begitu. Banyak guru-guru yang memfonis aku tidak akan lulus. Tapi, toh mereka masih membantu, bapak dan ibu penjaga ujian nasional itu juga membantuku mengerjakan soal. Mereka itu, sebenarnya, bangga padaku. Hanya saja mereka bingung, menurutku, takut aku dan teman-teman tidak bisa jadi orang kaya, tidak bisa mendapatkan pekerjaan enak bila tidak mempunyai ijazah. Padahal, pendapatan kami dari hasil manggung di mana-mana sudah lebih besar dari gaji guru.

Mungkin mereka terlalu sayang. Saat mereka tahu aku dan teman-teman lulus, kami yang disapa duluan oleh mereka, seakan mereka menemukan emas di tempat pembuangan sampah. Teman-teman yang lain jadi iri. Katanya, mentang-mentang aku dan teman-teman sudah terkenal, dipuji sampai segitunya, meskipun sebenarnya tidak murni menyelesaikan soal sendiri.

Ya, aku begitu.

Bersambung Cerpen: Yang Biasa (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *