Cerpen Cinta: Kisah Tak Dimengerti (2)

CERPEN CINTA GALAU

CERPEN CINTA GALAU Kisah Tak Dimengerti (2) merupakan lanjutan dari Cerpen Cinta: Kisah Tak Dimengerti (1).

CERPEN CINTA GALAU. Pelayaran terkendali arus gelombang, terombang-ambing kian kemari, melesat, diam, melompat, hingga hampir terguling. Begitu kuat cintanya. Dan samudera pun takluk, diam, tenang dalam kedamaian. Ikan-ikan indah berlompatan memamerkan warnanya di permukaan, mengkilat-kilat disambar sinar surya pagi. Langit kaget dan mengusir kabut, takjub ia menyaksikan keindahan samudera hingga ingin turun. Hampir-hampir sang surya lari takut tertindih.

Bahtera melaju melenggak-lenggok damai. Gelombang meliuk-liuk indah. Angin taupan yang biasa mengibas-ngibas ganas entah ke mana. Alam tersenyum, terbahak terpingkal-pingkal.

Tiba-tiba, air samudera meninggi. Kabut berkerumun takut tertuduh telah menangis. Mereka kompak menyatakan bahwa mereka tak berair mata. Sang bahteralah yang menangis. Ia telah hancur oleh panas, rapuh dan ditelan gelombang yang tenang dan lembut.

Wanita tua. Tak terasa kini ia telah jadi wanita tua, keriput kulitnya, tidak bening lagi seperti dulu. Ia sudah lupa rayuan-rayuan mesra dahulu. Tetapi sang lelaki tua yang dulu sangat romantis masih ingat kisah-kisah indahnya, kata-kata rayuannya, semuanya. Seorang putra yang gagah, yang telah ia besarkan bersama permaisuri tercinta, adalah pemberian wanita tua yang bungkuk itu, bukan dari permaisuri cantik yang masih muda yang menjadi teman hidupnya di istana.

Masih ia ingat ketika cintanya tergoyah oleh kecantikan lain yang baru merekah, entah itu hanya buah kebosanan atau memang nyata hakikatnya? Yang pasti telah memikat hatinya. Ah, semua itu adalah masa lalu. Ia menunduk, mematung. Jiwanya terasa beku.

CERPEN CINTA GALAU. Entah apa yang membuatnya mengunjungi tempat kenangan di ujung hari seperti ini? Kegelisahan? Mungkin. Atau sekedar rindu masa lalu. Ia mengikuti wanita tua itu, melangkah perlahan melewati lorong-lorong sempit yang kumuh, berserakan sampah-sampah. Wanita tua itu semakin masuk ke perkampungan, kemudian berhenti di rumah yang terbuat dari anyaman bambu yang sudah reyot. Ia memasukinya. Lelaki tua itu terdiam sejenak. Rupanya ia ingat, di rumah itulah–ketika dulu masih berdiri tegak dan masih berwarna putih cerah–ia pertama kali memetik kuntum yang belum terjamah.

Ia melangkah, membuka pintu tanpa mengetuk. Wanita tua itu kaget. Ada seorang wanita muda tergeletak di sampingnya, kurus, tinggal tulang berbalut kulit. “Siapa, Bu?” suara wanita muda itu agak gemetar. Ibunya membisu, menatap memancing ingatan. Lelaki tua menghampiri.

“Anda siapa?” Tanya si wanita tua.

“Bu Suminah sudah tiada?”

Wanita tua itu terkejut, karena lelaki tua itu mengenal orang miskin yang dulu sangat menyayanginya, lebih penyayang dari ibunya sendiri. Ia memperhatikan lelaki tua itu dengan seksama. Dan si wanita muda memandang ke sana dan sini, ibunya dan lelaki tua itu mematung saling pandang.

“Kau semakin tampan, mungkin lebih tampan dari anak kita,” kata wania tua itu. “Di mana dia?”

CERPEN CINTA GALAU. Si wanita muda semakin tidak mengerti. Dan lelaki tua itu tertawa, lalu tersungkur dan menangis. Si wanita tua terkenang romansa indah dahulu, serangkai kisah indah berakhir luka. “Kenapa kau menangis?” lelaki tua itu mendongak. “Anakmu yang menderita seumur hidup ini tak pernah menangis.” Semakin keraslah tangis lelaki tua itu. Terguncang tubuhnya, suara tangisnya didengar sekuntum bunga melati di tepi pantai laut utara, bunga melati yang sendirian. Ialah bunga melati yang terbuang. Tetapi ia telah lupa, bahkan terhadap dirinya sendiri. Ia tak bergeming oleh tangisan lelaki tua itu. Tetapi kebisuannya menyatakan sebuah ejekan lebih dari bualan setan.

Mengganaslah seluruh alam. Marah, geram, hahhh!!! Tetapi amarah yang melelahkan. Si wanita muda menangis, “Bapak” sebuah sebutan yang pertama ia ucapkan beriring air mata yang pertama pula. Alam diam, haru tak mengerti kisah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Show Buttons
Hide Buttons