Cerpen: Kisah Tak Dimengerti (1)

cerpen, cerpen dewasa,cerpen romantis, contoh cerpen, cerpen singkat, cerpen cinta

CERPEN. Sudah ada bintag senja di ufuk. Lihat. Burung-burung itu bukan gelisah. Lihat, mereka terbang mengular dari selatan, bagai membalap angin. Mereka hendak kembali keperaduan bersama anak-anaknya yang gemar bermain. Sebenarnya, anak-anak mereka masih ingin bermain, agar segera akrab dengan alamnya, tapi ibu-ibunya ingin mendekapnya semalam penuh. Mereka tak sanggup berpisah saat hari sudah gelap, atau mungkin malu pada dewi malam, atau mereka tak mau tersaingi kasih sayang purnama yang rela berlelah-lelah bersinar saat dingin menusuk-nusuk tubuh.

Lihat di bumi, wajah keriput itu tak secerah dulu. Hhh… senjanya tak berhias mega. Tak indah lagi. Dan surya kita melebarkan sayapnya, melingkar setengah di pertemuan tepi alam, langit dan bumi. Mega-mega itu bagai para pengawal istana yang hendak menyambut rajanya yang baru saja datang bertugas.

Wanita tua. Badannya sudah bungkuk. Dia yang dulu dikagumi setiap mata. Bahkan sang surya seakan tak mau membenam ditelan mega. Ulahnya membuat dewi malam cemburu. Tetapi itu dulu, saat pagi baru merekah, berhias bunga-bunga di awal musim kembang. Sekarang, kemana cantik pagi yang dulu? Ah, dia bukan lagi gadis yang suka bermanja-manja membangga rupa. Di jiwanya telah terpenuhi kabut kasih yang selalu mendesak-desak untuk menjadi hujan. Gelisahlah langit, selalu.

Wanita tua. Bungkuk badannya, seperti ujung pohon bambu yang lentur, namun tegar jiwanya. Kakinnya tak beralas menapaki kerikil. Tubuhnya tak berbungkus sutera seperti dewi di istana, tapi dingin menjelma bara tak menyengat. Lihat, dia tersenyum, samar-samar ditelan gelap yang belum sempurna. Di tangannya tergenggam lembaran rupiah. Ia dapatkan dari belas kasih tangan-tangan dermawan. Ia yakini itu tangan-tangan Tuhan.

Wanita tua terus melangkah. Lihat, orang-orang yang sedang duduk di pinggiran jalan yang akan ia lewati pura-pura sibuk, ada yang mencet-mencet telepon genggam, ada yang sok rajin membaca Koran, padahal hari sudah mulai gelap. Si wanita tua menjadi malu, wajahnya merunduk. Dan orang-orang itu merasa lega, kembali lagi bersantai. O, lihat, debu jalanan menghampiri wanita tua itu, seperti bidadari-bidadari rindu kekasihnya. Mereka membawa senyum menyimpul lusuh.

Ada seorang lelaki tua, sangat sepuh, tapi masih sempat ia menyisir rambutnya, tak kalah sama anak muda. Ia tersenyum memandang wanita tua yang sudah bungkuk itu. Bola matanya yang tersembunyi di balik kaca mata hitamnya membawa dunia pada kisah dahulu. Malam seakan urung menguasa.

Lelaki tua itu teringat para petugas kereta api yang tak satu pun yang tidak ia kenal. Ia tahu nama mereka, rumah mereka, adik dan kakak mereka, tetangga mereka, sahabat dan teman dekat mereka, hingga makanan kesukaan mereka. Masih ia ingat semua itu. Tetapi sebagian mereka telah tiada, mungkin beberapa yang masih hidup. Dulu mereka sudah jadi bapak-bapak. Memang ada sebagian yang muda. Merekalah yang mungkin masih ada sekarang.

Bahkan lelaki tua itu hafal jadwal pemberangkatan kereta api ke segala jurusan di stasiun itu. Bahkan lebih hafal dari petugas stasiun yang masih baru. Ah, ia tersenyum. Ia teringat masa-masa indah dulu. Bukan, bukan indah. Di stasiun itu tak ada taman bunga. Yang ada besi dan baja.

“Wajahmu seperti matahari pagi, atau bunga yang baru mekar.”

Itu yang dulu pernah terucap sebagai rayuan. Mendadak alam penuh dengan bunga, hingga rel-rel pun bermekaran. Gerbong-gerbong juga menebar aroma kembang. Alam nyata dan mimpi tak lagi berbeda saat itu, tak ada yang mampu membedakan. Mata termangsa takjub. Tetapi dunia terlalu indah hingga hilanglah keindahan itu, terbunuh dirinya sendiri. Semua yang tak indah terkubur, tapi keindahan malah kehilangan makna.

“Sayang, jangan kau bersedih. Apalah artinya harta bila tak ada yang berair mata saat kau sedih, tak ada yang ikut tertawa saat kau bahagia. Kesendirian lebih dari penderitaan. Tak perlu kau impikan istana yang megah dan taman yang indah. Aku takut keindahanmu termangsa.”

Kata-katanya sungguh menjanjikan, mampu membunuh keraguan. Dan kalimat itu terjawab kata sepakat. Bahtera pun berlayar menjelajah samudera-samudera tak dikenal, berlayar sehasta demi sehasta menuju pulau tak nampak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *